Entah
ada angin apa, tiba-tiba gue pengen nulis ini. Ini bukan hal yang penting
banget. Tapi beberapa hari ini gue kepikiran, gue bertanya “gue mikir kayak
gini itu karena gue syirik atau karena gue kangen ? “ – dan okesip, gue yakin
kedua hal itu bukan jawabannya.
Usut
punya usut sehari sebelum gue nulis ini, gue sempet ketemu sama temen lama gue
disuatu tempat yang enggak bangetlah tapi lumayan buat nongkrong dengan memesan
secangkir kopi dan susu /eakk/. Dan karena pertemuan itu, entah kenapa gue jadi
memikirkan ini dan tertarik buat nulis hal ini. Sebelumnya memang sudah ada
contact antara gue sama temen lama gue, yang membuat kami akhirnya ketemu, tapi
hal-hal itu yang juga membuat gue kepikiran kearah ini.
......................................................................................................
Beberapa
hari ini, sadar gak sadar tiap gue mantengin timeline twitter kesayangan ,
jalannya RU nan padet yang tiap detik bisa ganti itu dan baru aja gue pantengin
efbe....................dan hal terakhir pantengan gue adalah yang membuat gue
perlu menulis hal-hal ini. Tapi, karena gue berusaha menjaga nama baik, gue
rasa gue gak perlu sebut nama ~
Beberapa
orang disekitar gue, tentunya udah tau kalau gue saat ini berada dalam fase
proses adaptasi biarpun dah 2 bulan menapaki dunia baru, dan sejujurnya ini
adalah masa adaptasi terlama dan terberat buat gue. Iyaps berat, everything
has changed; times changed and make many people changed. Entah kenapa, tapi
dalam waktu selama ini gue masih bergejolak untuk tinggal ditempat ini, selalu
sering bahkan sudah semacam niatan buat ninggalin tempat ini, but you know-lah
gue hanyalah seorang pemimpi-penarget yang selalu payah dalam meraih segalanya.
Im not lucky than everyone
Sampai
akhirnya gue nemuin orang, sesosok oranglah yang pasti. Gue lihat dia bahagiaaa
syekali dengan hidupnya sekarang, dan menurut gue dia adalah orang yang palin
bahagia dengan hidupnya sekarang disaat gue lagi sulit-sulitnya menerima
kenyataan pahit hidup gue sekaranh, disaat beberapa orang masih merindukan masa
putih abu-abu, dan disaat beberapa orang lebih memilih cuek dengan hidupnya
sekarang. Dan diantara manusia-manusia itu, gue pikir dia adalah orang yang
paling bahagia dengan hidupnya sekarang; SELAMAT.
Tentunya
sebagai teman yang baik, gue turut seneng- sangatlah bahagia. Setidaknya dia
enggak merasakan apa yang gue rasain sekarang, tapi disisi lain gue mikir “Apa
dulu saat bersama gue, hidupnya enggak semenarik sekarang atau gimana ? “ – dan
jawabannya adalah entahlah.
Temen
lama gue yang gue ceritain diatas tadi, kebetulan habis nangis-nangis pilek
telpon gue dan ngeluh tentang betapa galaunya dia dihidupnya sekarang, and then
I think isn’t only me who feel if now everything is so different and difficult
~ Setelah itu beberapa teman gue sering cerita, kalau dia merindukan masa-masa
putih abu-abu bahkan rajin banget ceritanya wkwkw, gue sih gemes, actually gue
sendiri antara kangen dan sama (sekali) enggak kangen sama PAA, yang gue
keluhin disini adalah setiap hal disini yang menurut gue sangat sulit, sangat
(teramat) sulit. Lalu ada beberapa temen gue yang biarpun dia gak cerita, tapi
dia berusaha tenang, berusaha tenang dalam arti gue gak liat hidupnya sekarang
menarik , ya flat-flat aja gitu. Tapi gue yakin yang flat-flat itu sebenernya
gasepenuhnya gemanarik, cuman mereka cuman merasa mungkin dulu dan sekarang
biasa aja. Sepertinya adala 1 kelompok yang belum gue tulis disini, yaitu para
temen PAA gue yang mungkin enggak nunjukin bagaimana dunianya saat ini
dikarenakan mereka lagi sibuk-sibuknya menikmati sekaligus menyelesaikan setiap
bagian didunianya saat ini, gue paha; mereka para manusia sok sibuk yang
sebenrnya juga nyimpen kangen sama masa PAA. HAHA /pukpuk/ .
Tapi apapun itu, siapapun kalian
.......................nikmatilah setiap langkah yang ada.
Entah
bermula dari apa, lalu ke apa. Tapi sebenernya udah lama gue mikir, lalu
seklebat hilang gitu sih. Gue melihat salah satu temen gue, dia bahagia banget
saat ini, bahkan jauh disini gue masih bisa merasakan betapa indahnya hidupnya
saat ini, lewat tulisan mungil di PM nya dan beberapa status yang kebetulan
munculn dilayar hape gue ,ini semacam kayak keahlian gue buat meyakini sesuatu
yang gue baca muncul, dimana gue memprediksikan seseorang lewat tulisannya dan
gue yakin saat ini gue gasalah. Karena, akan lebih baik sosok ini benar-benar
bahagia dengan dunianya yang sekarang.
Pernah
beberapa saat gue semacam syirik gitu, tapi sekali lagi gue ucap
“astaghfirullah hal-adzim “ karena gue yakin syirik dan iri itu beda tipis, dan
iri itu dilarang di agama gue. Tapi, sesungguhnya sungguh manusiawi kan kalo
gue iri ? hihi. Sosok ini, dia begitu menikmati hidupnya sekarang bahkan
bahagia banget. Gue pernah ketemu dia sekali, selama kita udah gak ketemu
beberapa minggu itu, bahkan saat dia ketemu gue, terpancar jelas wajah tanpa
masalahnya. Subhanallah , luar biasa~
Iya dia bahagia diluar sana, dia menikmati betul tiap proses
perjalanannya.
#Tulisan gue makin
muter-muter...................................../
Bentar,
bentar................gue numpang flashback tersirat disini yah. Padahal kalo
inget dulu, gue yakin dia sama bahagianya dengan gue dalam menjalani masa PAA.
Bedanya, gue lihat.................dia sekarang lebih all-out dalam menikmati hidupnya, (agak) sedikit beda
dengan sosoknya yang dulu. Tapi inget-gak inget , gue inget pernah nasehatin
dia buat “Life must go on; walaupun dia berulang kali ngeluh takut
gabisa hidup tanpa a-b-c-d-e .................” sekarang ngeliat hasilnya, ah
bangganya~
Beberapa
jam sebelum gue nulis artikel ini, gue habis dapet mensyen dari temen lama yang
nyangkut ketemen lama satunya, ( istilahnya kita bertiga kayak geng gitu),
terus si temen lama ini bilang kangen sama gue , ahiw lalu kami melanjutkan
sedikit conversation. 2 jam setelah gue dapet mensyen itu, gue kedapetan di
layar hape gue “2 panggilan tidak terjawab” dari temen lama gue yang sehari
lalu gue temuin di cafe itu , dan terakhir gue dapet chat dari temen lama gue
yang cerita tentang malasnya dia masak nasi dan betapa ngantuknya dia di jam
segini. Hal-hal se-sepele itu, make me get the point if “Happines is simple”
yagimana gak sederhana, hanya dengan
hal-hal kayak gitu gue marasa bahagia banget, merasa betapa gue dihargain dan
gue masih dikenang ~ eaak. Tapi saat gue
bahagia dengan hal-hal seperti ini, sebenarnya disisi lain gue selalu bilang
sama diri gue sendiri bahwa hal-hal kecil seperti ini tidak akan berjalan lama,
jadi selagi ada nikmatilah walau nanti tidak akan kembali seperti ini. Gue
cuman gak mau terlarut dalam kebahagian dan salah ambil kesimpulan.
Kenapa
tiba-tiba gue kepikiran, kenapa manusia yang sekarang sedang bahagia-bahagia
dengan dunianya saat ini seakan gapernah bilang kangen ke gue (?) gapernah
membuat gue tersentuh seperti beberapa temen lama gue yang lain (?) padahal dia
sendiri adalah bagian dari apa yang gue sebut “temen lama” . AH, sesungguhnya
negthink gabaik, gue selalu menyakinkan diri gue buat gak terlalu larut dalam
suatu pemikiran gue yang kadang kacau ini -,,,,,,,- . Come on, mungkin manusia
ini memang sedang nikmatnya menjalani hidupnya, gue tentu ikut bahagia kalau
dia benar-benar menikmati dunianya sekarang, dan gue harap itu akan bertahan
dalam waktu yang lama. Toh, dari dulu gue sendiri yang bilang sama dia untuk
menikmati tiap hidupnya tanpa atau ada seseorang (re : seseorang yang
menurutnya berarti saat waktu tertentu).
Gue
kadang menerka, hidupnya sekarang jauh lebih menarik dibanding hidupnya yang
dulu. Entahlah kalao terkaan gue benar adanya, entah kenapa tiba-tiba gue
marasa bersalah, sebagai orang terdekatnya gue seharusnya bisa membuat dia
merasa bahwa dunianya dulu amatlah berarti. Tapi, ya segala sesuatu sudah
lewat, yasudah~
Gue
disini cuman bisa berdoa yang baik-baik untuk teman lama-ku yang kini sedang
menikmati betul hidupnya, selamat berjuang kawan ~ I miss you, but I wont if
what I write is make you annoyed with me. So, enjoyed ur life and dont read it~
Goodluck, i’ll waiting the good news
from you about ur future.

