Malam ini, mati lampu………………dan karena
tidak ingin membuang banyak waktu penulis memutuskan untuk menuliskan sesuatu
disini.Beberapa hari yang lalu, Penulis sedanmg mendapatkan suatu curhatan
mengenai pertemanan. Then the writer got the topic to make a sentences in some
paragraph. Lets read.
Pertemanan adalah…………..ada yang tahu
definisi pastinyakah? Singkatnya mungkin hubungan antara beberapa orang yang
merasa dekat satu sama lain. Ya kurang lebih gitu sih. Penulis yakin tanpa
menjabarkan definisi pertemanan pastilah kalian para pembaca sudah tahu apa itu
pertemanan. Tepatnya itu bukan sesuatu hal yang bisa atau harus dideksripsikan
dalam kalimat, tentunya kalian masing-masing akan menemuinya.
Penulis pernah membaca disalah satu
tulisan seorang penulis “titik,koma” yang kurang lebih begini “ kalau memang
teman adalah teman, bertemanlah dengan siapapun. Bergaul baru pilih-pilih……….” - lupa nama penulisnya. Yap, bertemanlah
dengan siapapun, carilah teman sebanyak-banyaknya.Dalam beberapa event motivasi
atau seminar atau apalah, beberapa orang hebat tidak jarang memberi saran
kepada para penonton atau audiencenya kala itu bahwa salah satu jalan menuju
sukses adalah berteman dengan banyak orang, iya berteman dengan siapapun. Tapi
yang ingin penulis bahas disini bukan tentang jalan menuju sukses atau apalah;
dikarenakan penulis juga bukan orang hebat seperti para motivator era-era ini
(in process…………)
Tunggu, ini ngeblank.Materinya
berantakan, dan penulis tidak sempat bahkan memang tidak pernah membuat brainstorming
dalam tiap penulisan artikelnya, kecuali dalam matkul writing dikampus, haha.
Kita tidak harus mempermasalahkan
teman yang datang dan pergi seenaknya /seenak jidatnya maksudnya/ bukankah
“datang disaat gelap dan pergi disaat terang” adalah sifat manusia yang
diera-era ini terlihat sangat manusiawi.Menulis pernyataan tersebut tidak
berarti bahwa semua manusia seperti, tidak berarti bahwa penulis pro dengan
manusia-manusia semacam itu – tidak berarti juga penulis pro dengan para
manusia yang selalu menyalahkan manusia-manusia seperti itu. Secara perasaan
(karena penulis perempuan) beberapa dari kita jelas tidak begitu nyaman
menerima kehadiran manusia yang datang hanya saat dia membutuhkan, tapi kita
bisa apa ?bukankah dengan adanya manusia-manusia seperti itu, membuat kita
menjadi lebih belajar untuk menerima dan ikhlas dalam berteman. Itulah mengapa
diawal tadi sudah penulis tuliskan bahwa bertemanlah dengan siapapun. Dengan
memiliki banyak teman, tentunya tidak akan membuat kita terlalu memusingkan
manusia-manusia yang datang hanya ketika butuhnya saja. Tapi, ada banyak teman
atau tidak disekitar kita tetaplah berpositif thinking. Percayalah bahwa segala
sesuatu didunia ini tidak terjadi begitu saja, seorang teman yang datang dan
pergi begitu saja tentunya memiliki alasan selain sekedar dengan alasan “karena
urusannya dengan kita sudah selesai” ,yah tapi penulis tidak memungkiri bahwa
tetap saja ada manusia yang alasannya hanya satu………..ya alasan yang itu saja.
Teman, dia juga manusia.Kita juga manusia;
hei kita disini semua sedang membicarakan manusia.Manusia yang merasa selalu
didatangi ketika butuh dan lalu berakhir merasa kehilangan, dan Manusia yang
seenak jidatnya datang dan pergi; datang ketika butuh dan pergi ketika kelar.
Bukankah bisa saja tanpa sadar Manusia Pertama itu bisa melakukan seperti apa
yang dilakukan oleh Manusia Kedua dan bahkan sebaliknya ? . Terkadang pemikiran
kita berjalan seperti peribahasa “Kuman disebarang terlihat, Gajah didepan mata
buram” – yakuranglebihgitu.Iya, terkadang kita terlalu cepat menyimpulkan
kesalahan teman kita, tanpa mau melihat letak kesalahan kita dimana.Parahnya,
kita terlalu cepat merasa kehilangan tanpa ada usaha untuk mengembalikan
keadaan oh bukan mengembalikan keadaan, tapi mempertahankannya. Teman adalah
teman, dia tetaplah manusia yang memiliki kebebasan menentukan langkah apa yang
ingin dia ambil, sekalipun langkah itu adalah “pergi ketika urusan kelar” belajarlah
menerima-menghargainya. Naif, kata “menerima-menghargai” atau yang senada
dengan “ikhlas dalam pertemanan” adalah kata-kata naïf yang dibuat sok halus
agar terlihat baik, tapi bukankah merasa terluka, negative thinking dan meronta
adalah hal yang wajar pula dalam merespon adanya tingkah teman yang semaca itu?
Bukankah lebih baik menjadi apa adanya. Menjadi seperti apa yang dipikirkan
oleh dirimu, tanpa harus sok baik-sok nerima-sok ikhlas.
Sesungguhnya dalam hati manusia,
seburuk apapun itu; tetaplah tersimpan kebaikan walau sedikit dan kebaikan yang
dapat kita sadari ini bisa menjadi lebih besar kalau saja kita benar-benar
mampu mengalahkan yang buruk. Its mean that, sebenci dan sesakit apapun rasanya
diperlakukan oleh teman sendiri, tetap saja penulis meyakini bahwa masih ada
kebaikan yang tersimpan dala hati kita. Hei, ini teman; teman kita
sendiri.Pantaskah kita membenci?Pantaskah kita tidak memaklumi
kesalahannya?Bukankah kita juga pernah salah? ; jawabannya adalah maafkanlah
apabila itu menyakitkan, dan tetaplah positif thinking seburuk apapun situasi
akan terbentuk. Kita sebagai teman memang fungsinya adalah selalu ada untuk
yang merasa/dirasa menjadi teman kita, tanpa mengharapkan imbalan apapun.Tapi
tentunya, sebuah sikap pertemanan sudah sepantasnya dibalas dengan sikap
pertemanan tanpa harus diminta. Dengarkanlah temanmu, berikan dia saran bila
memungkinkan, ikuti dan pahami emosinya, tenangkanlah, peringatkanlah jika dia
salah, tertawalah bersamanya ; lakukan hal-hal seperti itu dengan ikhlas dalam
sebuah pertemanan, maka hal-hal kecil seperti itu pula yang akan berbuah menjadi
kebaikan. Percayalah bahwa hukum alam tentang kebaikan akan dibalas dengan
kebaikan dengan segala kekuatan tuhan itu benar adanya.
Lalu bagaimana dengan bagian menangis
bersama, ceritakan masalahmu, tumpahkan amarahmu, katakana hal-hal yang tidak
kau sukai darinya; apakah hal itu tidak harus disampaikan senada dengan hal-hal
paragraph sebelumnya, ikhlas-tulus?Tidak, maksudnya itu terserah
kalian.Merupakan hak masing-masing untuk melakukan hal tersebut. Yang penulis
lihat dari beberapa pertemanan, ada beberapa pertemanan yang berjalan begitu
lama, padahal selama waktu yang terlewat
oleh pertemanan itu hanya salah satu pihak yang sangat antusias menjadikan
pertemanan sebagai tempat meneduh-berlindung-berakhir, sedangkan pihak satunya
hanya seperti penonton-pendengar-pemberi saranTapi, kenyataanya mereka bertahan
bukan?. Inilah kekuatan sebuah pertemanan, keikhlasan-ketulusan dala menerima
dan memberi. Kebaikan tetaplah akan mendapatkan tempat terbaik dan balasan
terbaik, hanya saja itu butuh proses. Pada akhirnya yang hanya hobi berkeluh
kesah-berteduh-menangis-meronta di temannya, lama-kelamaan akan bisa belajar
menjadi sosok yang peka dan pendengar yang baik; hanya butuh proses bagi yang
mau bersabar. Kalaupun satu sama lain tidak berjalan seimbang untuk saling
memberi dan menerima, itu hak masing-masing untuk mengambil sikap diwaktu yang
disebut “cukup, ini melelahkan”.
Bukalah pintu bagi siapapun yang ingin
datang kepadamu, seburuk apapun cara dia datang dan lalu pergi, karena mungkin
bisa jadi itu adalah salah satu cara paling mudah agar kita bisa berguna untuk
orang lain. Bertemanlah dengan siapapun, siapapun………………agar bila nantinya kita
akan kehilang salah satu atau lebih, tidak akan menjadi cukup sulit untuk
menerima keadaan yang akan berubah. Penulis tidak sama sekali menyuruh kalian
buta akan sebuah kehilangan dan kepergian, hanya saja selagi kita masih bisa
berbuat baik dan berguna untuk orang lain, kenapa harus melewatkan kesempatan
itu? Kehilangan dan kepergian adalah cobaan, adalah bagian paling hebat untuk
menguatkan dan menggambarkan sejauh mana kita menjadi sosok yang ikhlas dan
tulus dalam pertemanan.Jangan genggam temanmu terlalu erat.Berjalanlah
disampingnya, tanpa harus mengenggamnya erat; karena genggaman itu bisa
menyakitkan salah satu atau bahkan keduanya. Bebaskan dia seperti angin, tidak
semua teman akan benar-benar sebebas angin, hanya sahabat yang tentunya siap
bertahan menjadi udara disekitarmu; yang akan bertahan satu sama lain melanggar
sifat udara yang ada dibuku sains.
“Teman
yang sebenarnya tidak akan menjadi bayanganmu yang terlihat ketika ada cahaya
dan menghilang ketika gelap menghampiri.Tapi tidak semua teman bisa menjadi
“teman yang sebenarnya”, dan tidak semua teman bisa menjadi “sahabat”.Tidak
peduli bagaimanapun nanti, carilah teman seluas-luasanya. Dan biarkan “saling
menerima-memberi dengan ikhlas” menjadi langkah pertemananmu berjalan jauh
menembus waktu “ – Sekian