Kamis, 07 Mei 2015

IDK THE TITTLE



“Hardwork beats talent when talent doesn’t work” – Tim Notke
          Sepertinya kata-kata itu sudah ada sejak lama tapi entah tanpa sengaja atau disengaja oleh tuhan sehingga quotes itu sangat mudah ditemukan belakangan waktu ini. Pandangan mata yang mulai sayu, kepala yang mulai terpangku diatas tangan, dan hembusan nafas yang mulai pelan didapati terkejut oleh adanya quotes itu, seperti membangkitkan kembali energi-energi yang sudah padam. Tapi toh, bangkit saja itu tidak cukup. Jika beberapa orang percaya diri dengan membanggakan kata-kata “yang penting niat dulu, berkeinginan dulu………………..” terhadap mimpinya. Tapi ini lain, kata-kata atau makna dibalik kata-kata itu tidak membanggakan sama sekali. Yah pada akhirnya tertahan dalam keyakinan bahwa bangkit aja itu enggak cukup, niat aja enggak cukup. Tunggu, bangkit dan niat itu sebenarnya berkemungkinan berbeda maksud, tapi tetap saja yang bangkit akan berkelanjutan dengan niat atau berkeinganan (kembali).
Yang terbiasa terjatuh mungkin tidak bisa ditembus dengan kata-kata semacam itu, yang terbiasa terjatuh sudah kenyang dengan pengalaman…………….yang terbiasa terjatuh kadang pula tidak sadar bahwa dia sudah mendapatkan apa yang sepantasnya dia dapatkan; bukan apa yang dia cari. Tapi manusia tetaplah manusia, selalu ingin mendapatkan apa yang mereka cari dan mereka inginkan. Mereka, tepatnya beberapa dari mereka lupa bahwa segala sesuatu memiliki porsinya masing-masing. Padahal mereka punya tuhan, mereka punya agama…………..bukankah semua agama mengajari umatnya untuk bersyukur atas apa yang telah diterima oleh pribadi masing-masing. Terkadang sehebat apapun ilmu agama yang dimiliki, manusia tetaplah manusia; mereka tidak bisa dipisahkan oleh adanya nafsu. Tapi tidak bisa dipisahkan bukan berarti tidak bisa mengkontrol, nafsu tetaplah bukan hal yang baik. Tunggu ini berbelit, berulang kali menulis berbelit.
Hasil selalu sesuai dengan seberapa besar usaha, perjuangan dan seberapa banyak keringat, energy yang terkuras. Tidak ada usaha yang sia-sia didunia ini, semuanya seimbang. Hanya saja terkadang manusia terlalu buta untuk melihat mana hasil mana ujian, apa yang sesungguhnya hasil malah kita anggap ujian sehingga lupa berucap syukur. Seberapa hebat sebuah kemampuan, minat dan bakat; tetaplah hanya akan menjadi seonggok segel “kemampuan-bakat-minat” apabila tanpa usah dan perjuangan didalamnya. Bakat itu seperti apa, biarpun melekat dengan erat bersamaan dengan kayu yang dibakar pada akhirnya dia akan padam apabila kayu dibiarkan terkena angin lewat tanpa usah menyelamatkan kayu dari terpaan angina itu. Hasil tidak pernah dengan adanya doa dan usaha diawal.
Quote itu sepertinya dirancang ada didunia untuk memberi peringatan kepada mereka yang merasa memiliki kemampuan dan bakat, tapi terlena menikmati dunia tanpa mau bekerja keras lewat kemampuan dan bakatnya. Quote itu tersebar dengan tujuang memberi motivasi pada mereka yang sampai saat ini belum bisa menemukan bakatnya, bahwa bakat berada dibawah kendali kerja keras untuk mendapatkan hasilnya. Bakat tidak berarti apa-apa tanpa kerja keras, sedangkan kerja keras tidak pernah berkhianat terhadap para pelakunya. Maka berjuanglah, apapun itu…………bagaimana bentuk selama itu positif. Lihatlah hal-hal kecil sebagai hasil, agar kita senantias belajar dan terus belajar.

Senin, 04 Mei 2015

BISU SEMENTARA



          Kamu tahu bagaimana rasanya manusia cerewet ini harus terdiam tanpa suara demia penolakan terhadap nyeri yang bisa ditimbulkan hanya dengan sekedar mengeluarkan suara. Bahkan, satu cegukan, satu gerakan otot penghubung mulut dan telinga, satu uapan mengantuk; bisa terbayar dengan beribu rasa nyeri yang luar biasa.
          Tidak hanya itu, manusia ini jadi merasa dunia lebih tenang dan sempit. Hanya saja terkadang menjadi lebih sulit ketika ada suatu suara yang frekuensinya diatas rata-rata untuk diterima telinga yang (tidak) normal sehingga penerimaan bunyi menjadi menukik tajam didalam telinga, dan nyeri itu kembali datang berkali-kali besarnya. Sungguh melelahkan terkukung dalam situasi sunyi dan diam pada sosok yang biasanya menghasilkan banyak bites suara dengan frekuensi yang amat dahsyat.
Tapi manusia ini jadi bisa ikut belajar, bahwa kita harus pintar-pintar memainkan bathin dan isyarat ketika suara tidak lagi bisa diandalkan

TINTA PENA



          Hari ini aku baru saja mencoba menyelesaikan salinan ku mengenai pembelajaran Shofie temanku yang dengan beruntungnya pernah mencicipi pahit manisnya suasana Kampung Inggris di Pare. Tapi, ditengah-tengah tulisan yang berjajar membentuk kalimat yang didalamnya terkandung berbagai makna berkaitan dengan grammar di bidang yang sedang kutekuni ini. Tiba-tiba saja, tulisanku memudar………………tinta pena yang kupakai hampir saja menyisakan ruangan isi tinta pena yang semula berisi tinta hitam setengahnya kini malah terlihat kosong lebih dari setengahnya; bahkan terlihat akan segera lengah dari tinta-tinta itu. Tahu apa yang didapatkan oleh penulis ini, warna tulisan yang memudar itu indah, dia membawa warna tersendiri ketika si penulis diawal tadi disibukkan dengan warna hitam berjajar dari awal pragraf.
          Seringkali kita tidak menyadari betapa suatu hal yang berbeda itu indah dan menyenangkan untuk dinikmati. Beberapa waktu sebelum suatu hal yang berbeda datang kita terkukung dalam perasaan bahagia atau biasa saja; saking bahagia atau normalnya perasaan kala itu, kita menjadi terbuai dengan keinginan untuk tidak ingin melepaskan atau sekedar kehilang hal tersebut. Iya kita bertahan, bertahan entah karena tidak ingin perasaan bahagia itu sirna, entah karena ingin terus berdamai dengan situasi tanpa ada embel-embel tekanan kanan kiri, atau karena situasi saat ini sudah lebih baik biarpun terkesan flat tapi setidaknya tidak ada yang harus dipusingkan. Mungkin kita memang tidak merasa bosan, saking tidak pernah merasa bosan kita sampai lupa bahwa disana ada hal berbeda yang harus kamu coba. Tidak, tidak……….jangan mencoba, sebuah hasil atas apa yang kamu lakukan selalu datang seperti misteri jadi lebih baik jangan sekali-kali mencoba terlebih jikalau kau sedang dalam situasi berdamai dengan sekitar. Jadi, kalian ingin pilih mana? Tetap bertahan dengan apapun alasannya atau ………………..mencoba sesuatu yang baru?
          Tanpa kita harus mencoba, sesuatu yang baru akan benar-benar datang. Menguji seberapa hebatnya Makhluk ciptaan Tuhan ini. Jangan disebut menguji, terdengar sangat menakutkan, panggil saja menggoda agar lebih terlihat menantang.  Iya seperti tinta pada pena yang tiba-tiba saja memudarkan warnanya menjadi keabu-abuan, sungguh bukan hal yang diharapkan oleh penulis atau dapat diprediksi kehadirannya. Tapi, mari kita menikmati. Warna keabu-abuan itu indah, berbeda dengan hitam; walaupun hampir, tapi tetaplah berbeda jika melihat keabu-abuan itu diujung sebuah paragraf yang sejak awal sudah tertulis dengan tinta hitam.

RANCAU



          Apa kamu bisa melihat fatamorgana? Iya, fatamorgana. Sesuatu hal yang tidak benar-benar ada seperti yang terlihat oleh kedua mata ini. Ada banyak hal yang kita anggap ada, tapi tidak benar-benar ada. Tidak banyak pula yang kita anggap bayangan justru benar-benar ada. Lalu dimana letak pembenaran sebuah perkiraan? Berhentilah mengira, tapi bukankah sebagai manusia kita dituntut untuk selalu berpikiran baik; seburuk apapun sebuah hal terjadi. Dibanding menyalahkan dan terus menyesalkan bukankah lebih baik melepaskan-melupakan. Dan yah, anggap saja semua baik-baik saja. Menjadi manusia yang tiada habisnya untuk berpikiran positif, hanya ingin berusaha berdamai dengan situasi yang ada dan berusaha mempertahankan apa-apa yang seharusnya tidak hancur hanya karena hal-hal sepele.
          Kenapa kamu bercerita hal berbeda dari kenyataanya? Kamu berbohong, iya memang berbohong. Tapi tidakkah kamu memang tidak pernah mengerti alasannya. Aku sedang berusaha menjaga nama baik seseorang, dan nama baikku sendiri. Aku melakukan segala sesuatunya dengan berpikiran panjang, bahkan aku tidak tahu yang berusaha berpikiran panjang justru malah menjatuhkan sebuah hubungan yang ada. Aku sedang menyelamatkan situasi jikalau hal buruk itu benar-benar terjadi, setidaknya tidak berpengaruh pada penonton yang lain jikalau kita berada dalam satu stage.
          Ah, lalu petir membangunkan tidur panjang sang putri tidur. Lalu penyihir pun menyuruhnya melihat segala sesuatu lebih realistis. Bahwa mimpi hanyalah mimpi, tidak pernah berarti apa-apa seperti yang terlihat. Putri tidur sempat melawan karena dia merasa selalu disiksa oleh mimpinya, tapi penjelasan yang selalu ia terima dari nenek sihir tiap dibangun tidurnya dan memang hal-hal sekitar yang tidak pernah mengirimkan arti mimpi. Membuatnya sadar, bahwa mimpi hanyalah mimpi yang tidak pernah berarti apa-apa, hanyalah bunga tidur yang sering disebut bunga; tapi justru mengganggu. Bahwasannya, tidur yang nyenyak adalah tidur terlelap tanpa mimpi dan terbangun bahagia; bukan nestapa.

Jumat, 01 Mei 2015

PERTEMANAN CEGITU SIH


          Malam ini, mati lampu………………dan karena tidak ingin membuang banyak waktu penulis memutuskan untuk menuliskan sesuatu disini.Beberapa hari yang lalu, Penulis sedanmg mendapatkan suatu curhatan mengenai pertemanan. Then the writer got the topic to make a sentences in some paragraph. Lets read.
          Pertemanan adalah…………..ada yang tahu definisi pastinyakah? Singkatnya mungkin hubungan antara beberapa orang yang merasa dekat satu sama lain. Ya kurang lebih gitu sih. Penulis yakin tanpa menjabarkan definisi pertemanan pastilah kalian para pembaca sudah tahu apa itu pertemanan. Tepatnya itu bukan sesuatu hal yang bisa atau harus dideksripsikan dalam kalimat, tentunya kalian masing-masing akan menemuinya.
          Penulis pernah membaca disalah satu tulisan seorang penulis “titik,koma” yang kurang lebih begini “ kalau memang teman adalah teman, bertemanlah dengan siapapun. Bergaul baru pilih-pilih……….”  - lupa nama penulisnya. Yap, bertemanlah dengan siapapun, carilah teman sebanyak-banyaknya.Dalam beberapa event motivasi atau seminar atau apalah, beberapa orang hebat tidak jarang memberi saran kepada para penonton atau audiencenya kala itu bahwa salah satu jalan menuju sukses adalah berteman dengan banyak orang, iya berteman dengan siapapun. Tapi yang ingin penulis bahas disini bukan tentang jalan menuju sukses atau apalah; dikarenakan penulis juga bukan orang hebat seperti para motivator era-era ini (in process…………)
          Tunggu, ini ngeblank.Materinya berantakan, dan penulis tidak sempat bahkan memang tidak pernah membuat brainstorming dalam tiap penulisan artikelnya, kecuali dalam matkul writing dikampus, haha.
          Kita tidak harus mempermasalahkan teman yang datang dan pergi seenaknya /seenak jidatnya maksudnya/ bukankah “datang disaat gelap dan pergi disaat terang” adalah sifat manusia yang diera-era ini terlihat sangat manusiawi.Menulis pernyataan tersebut tidak berarti bahwa semua manusia seperti, tidak berarti bahwa penulis pro dengan manusia-manusia semacam itu – tidak berarti juga penulis pro dengan para manusia yang selalu menyalahkan manusia-manusia seperti itu. Secara perasaan (karena penulis perempuan) beberapa dari kita jelas tidak begitu nyaman menerima kehadiran manusia yang datang hanya saat dia membutuhkan, tapi kita bisa apa ?bukankah dengan adanya manusia-manusia seperti itu, membuat kita menjadi lebih belajar untuk menerima dan ikhlas dalam berteman. Itulah mengapa diawal tadi sudah penulis tuliskan bahwa bertemanlah dengan siapapun. Dengan memiliki banyak teman, tentunya tidak akan membuat kita terlalu memusingkan manusia-manusia yang datang hanya ketika butuhnya saja. Tapi, ada banyak teman atau tidak disekitar kita tetaplah berpositif thinking. Percayalah bahwa segala sesuatu didunia ini tidak terjadi begitu saja, seorang teman yang datang dan pergi begitu saja tentunya memiliki alasan selain sekedar dengan alasan “karena urusannya dengan kita sudah selesai” ,yah tapi penulis tidak memungkiri bahwa tetap saja ada manusia yang alasannya hanya satu………..ya alasan yang itu saja.
          Teman, dia juga manusia.Kita juga manusia; hei kita disini semua sedang membicarakan manusia.Manusia yang merasa selalu didatangi ketika butuh dan lalu berakhir merasa kehilangan, dan Manusia yang seenak jidatnya datang dan pergi; datang ketika butuh dan pergi ketika kelar. Bukankah bisa saja tanpa sadar Manusia Pertama itu bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Manusia Kedua dan bahkan sebaliknya ? . Terkadang pemikiran kita berjalan seperti peribahasa “Kuman disebarang terlihat, Gajah didepan mata buram” – yakuranglebihgitu.Iya, terkadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesalahan teman kita, tanpa mau melihat letak kesalahan kita dimana.Parahnya, kita terlalu cepat merasa kehilangan tanpa ada usaha untuk mengembalikan keadaan oh bukan mengembalikan keadaan, tapi mempertahankannya. Teman adalah teman, dia tetaplah manusia yang memiliki kebebasan menentukan langkah apa yang ingin dia ambil, sekalipun langkah itu adalah “pergi ketika urusan kelar” belajarlah menerima-menghargainya. Naif, kata “menerima-menghargai” atau yang senada dengan “ikhlas dalam pertemanan” adalah kata-kata naïf yang dibuat sok halus agar terlihat baik, tapi bukankah merasa terluka, negative thinking dan meronta adalah hal yang wajar pula dalam merespon adanya tingkah teman yang semaca itu? Bukankah lebih baik menjadi apa adanya. Menjadi seperti apa yang dipikirkan oleh dirimu, tanpa harus sok baik-sok nerima-sok ikhlas.
          Sesungguhnya dalam hati manusia, seburuk apapun itu; tetaplah tersimpan kebaikan walau sedikit dan kebaikan yang dapat kita sadari ini bisa menjadi lebih besar kalau saja kita benar-benar mampu mengalahkan yang buruk. Its mean that, sebenci dan sesakit apapun rasanya diperlakukan oleh teman sendiri, tetap saja penulis meyakini bahwa masih ada kebaikan yang tersimpan dala hati kita. Hei, ini teman; teman kita sendiri.Pantaskah kita membenci?Pantaskah kita tidak memaklumi kesalahannya?Bukankah kita juga pernah salah? ; jawabannya adalah maafkanlah apabila itu menyakitkan, dan tetaplah positif thinking seburuk apapun situasi akan terbentuk. Kita sebagai teman memang fungsinya adalah selalu ada untuk yang merasa/dirasa menjadi teman kita, tanpa mengharapkan imbalan apapun.Tapi tentunya, sebuah sikap pertemanan sudah sepantasnya dibalas dengan sikap pertemanan tanpa harus diminta. Dengarkanlah temanmu, berikan dia saran bila memungkinkan, ikuti dan pahami emosinya, tenangkanlah, peringatkanlah jika dia salah, tertawalah bersamanya ; lakukan hal-hal seperti itu dengan ikhlas dalam sebuah pertemanan, maka hal-hal kecil seperti itu pula yang akan berbuah menjadi kebaikan. Percayalah bahwa hukum alam tentang kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dengan segala kekuatan tuhan itu benar adanya.
          Lalu bagaimana dengan bagian menangis bersama, ceritakan masalahmu, tumpahkan amarahmu, katakana hal-hal yang tidak kau sukai darinya; apakah hal itu tidak harus disampaikan senada dengan hal-hal paragraph sebelumnya, ikhlas-tulus?Tidak, maksudnya itu terserah kalian.Merupakan hak masing-masing untuk melakukan hal tersebut. Yang penulis lihat dari beberapa pertemanan, ada beberapa pertemanan yang berjalan begitu lama,  padahal selama waktu yang terlewat oleh pertemanan itu hanya salah satu pihak yang sangat antusias menjadikan pertemanan sebagai tempat meneduh-berlindung-berakhir, sedangkan pihak satunya hanya seperti penonton-pendengar-pemberi saranTapi, kenyataanya mereka bertahan bukan?. Inilah kekuatan sebuah pertemanan, keikhlasan-ketulusan dala menerima dan memberi. Kebaikan tetaplah akan mendapatkan tempat terbaik dan balasan terbaik, hanya saja itu butuh proses. Pada akhirnya yang hanya hobi berkeluh kesah-berteduh-menangis-meronta di temannya, lama-kelamaan akan bisa belajar menjadi sosok yang peka dan pendengar yang baik; hanya butuh proses bagi yang mau bersabar. Kalaupun satu sama lain tidak berjalan seimbang untuk saling memberi dan menerima, itu hak masing-masing untuk mengambil sikap diwaktu yang disebut “cukup, ini melelahkan”.
          Bukalah pintu bagi siapapun yang ingin datang kepadamu, seburuk apapun cara dia datang dan lalu pergi, karena mungkin bisa jadi itu adalah salah satu cara paling mudah agar kita bisa berguna untuk orang lain. Bertemanlah dengan siapapun, siapapun………………agar bila nantinya kita akan kehilang salah satu atau lebih, tidak akan menjadi cukup sulit untuk menerima keadaan yang akan berubah. Penulis tidak sama sekali menyuruh kalian buta akan sebuah kehilangan dan kepergian, hanya saja selagi kita masih bisa berbuat baik dan berguna untuk orang lain, kenapa harus melewatkan kesempatan itu? Kehilangan dan kepergian adalah cobaan, adalah bagian paling hebat untuk menguatkan dan menggambarkan sejauh mana kita menjadi sosok yang ikhlas dan tulus dalam pertemanan.Jangan genggam temanmu terlalu erat.Berjalanlah disampingnya, tanpa harus mengenggamnya erat; karena genggaman itu bisa menyakitkan salah satu atau bahkan keduanya. Bebaskan dia seperti angin, tidak semua teman akan benar-benar sebebas angin, hanya sahabat yang tentunya siap bertahan menjadi udara disekitarmu; yang akan bertahan satu sama lain melanggar sifat udara yang ada dibuku sains.

“Teman yang sebenarnya tidak akan menjadi bayanganmu yang terlihat ketika ada cahaya dan menghilang ketika gelap menghampiri.Tapi tidak semua teman bisa menjadi “teman yang sebenarnya”, dan tidak semua teman bisa menjadi “sahabat”.Tidak peduli bagaimanapun nanti, carilah teman seluas-luasanya. Dan biarkan “saling menerima-memberi dengan ikhlas” menjadi langkah pertemananmu berjalan jauh menembus waktu “ – Sekian


Kamis, 07 Mei 2015

IDK THE TITTLE



“Hardwork beats talent when talent doesn’t work” – Tim Notke
          Sepertinya kata-kata itu sudah ada sejak lama tapi entah tanpa sengaja atau disengaja oleh tuhan sehingga quotes itu sangat mudah ditemukan belakangan waktu ini. Pandangan mata yang mulai sayu, kepala yang mulai terpangku diatas tangan, dan hembusan nafas yang mulai pelan didapati terkejut oleh adanya quotes itu, seperti membangkitkan kembali energi-energi yang sudah padam. Tapi toh, bangkit saja itu tidak cukup. Jika beberapa orang percaya diri dengan membanggakan kata-kata “yang penting niat dulu, berkeinginan dulu………………..” terhadap mimpinya. Tapi ini lain, kata-kata atau makna dibalik kata-kata itu tidak membanggakan sama sekali. Yah pada akhirnya tertahan dalam keyakinan bahwa bangkit aja itu enggak cukup, niat aja enggak cukup. Tunggu, bangkit dan niat itu sebenarnya berkemungkinan berbeda maksud, tapi tetap saja yang bangkit akan berkelanjutan dengan niat atau berkeinganan (kembali).
Yang terbiasa terjatuh mungkin tidak bisa ditembus dengan kata-kata semacam itu, yang terbiasa terjatuh sudah kenyang dengan pengalaman…………….yang terbiasa terjatuh kadang pula tidak sadar bahwa dia sudah mendapatkan apa yang sepantasnya dia dapatkan; bukan apa yang dia cari. Tapi manusia tetaplah manusia, selalu ingin mendapatkan apa yang mereka cari dan mereka inginkan. Mereka, tepatnya beberapa dari mereka lupa bahwa segala sesuatu memiliki porsinya masing-masing. Padahal mereka punya tuhan, mereka punya agama…………..bukankah semua agama mengajari umatnya untuk bersyukur atas apa yang telah diterima oleh pribadi masing-masing. Terkadang sehebat apapun ilmu agama yang dimiliki, manusia tetaplah manusia; mereka tidak bisa dipisahkan oleh adanya nafsu. Tapi tidak bisa dipisahkan bukan berarti tidak bisa mengkontrol, nafsu tetaplah bukan hal yang baik. Tunggu ini berbelit, berulang kali menulis berbelit.
Hasil selalu sesuai dengan seberapa besar usaha, perjuangan dan seberapa banyak keringat, energy yang terkuras. Tidak ada usaha yang sia-sia didunia ini, semuanya seimbang. Hanya saja terkadang manusia terlalu buta untuk melihat mana hasil mana ujian, apa yang sesungguhnya hasil malah kita anggap ujian sehingga lupa berucap syukur. Seberapa hebat sebuah kemampuan, minat dan bakat; tetaplah hanya akan menjadi seonggok segel “kemampuan-bakat-minat” apabila tanpa usah dan perjuangan didalamnya. Bakat itu seperti apa, biarpun melekat dengan erat bersamaan dengan kayu yang dibakar pada akhirnya dia akan padam apabila kayu dibiarkan terkena angin lewat tanpa usah menyelamatkan kayu dari terpaan angina itu. Hasil tidak pernah dengan adanya doa dan usaha diawal.
Quote itu sepertinya dirancang ada didunia untuk memberi peringatan kepada mereka yang merasa memiliki kemampuan dan bakat, tapi terlena menikmati dunia tanpa mau bekerja keras lewat kemampuan dan bakatnya. Quote itu tersebar dengan tujuang memberi motivasi pada mereka yang sampai saat ini belum bisa menemukan bakatnya, bahwa bakat berada dibawah kendali kerja keras untuk mendapatkan hasilnya. Bakat tidak berarti apa-apa tanpa kerja keras, sedangkan kerja keras tidak pernah berkhianat terhadap para pelakunya. Maka berjuanglah, apapun itu…………bagaimana bentuk selama itu positif. Lihatlah hal-hal kecil sebagai hasil, agar kita senantias belajar dan terus belajar.

Senin, 04 Mei 2015

BISU SEMENTARA



          Kamu tahu bagaimana rasanya manusia cerewet ini harus terdiam tanpa suara demia penolakan terhadap nyeri yang bisa ditimbulkan hanya dengan sekedar mengeluarkan suara. Bahkan, satu cegukan, satu gerakan otot penghubung mulut dan telinga, satu uapan mengantuk; bisa terbayar dengan beribu rasa nyeri yang luar biasa.
          Tidak hanya itu, manusia ini jadi merasa dunia lebih tenang dan sempit. Hanya saja terkadang menjadi lebih sulit ketika ada suatu suara yang frekuensinya diatas rata-rata untuk diterima telinga yang (tidak) normal sehingga penerimaan bunyi menjadi menukik tajam didalam telinga, dan nyeri itu kembali datang berkali-kali besarnya. Sungguh melelahkan terkukung dalam situasi sunyi dan diam pada sosok yang biasanya menghasilkan banyak bites suara dengan frekuensi yang amat dahsyat.
Tapi manusia ini jadi bisa ikut belajar, bahwa kita harus pintar-pintar memainkan bathin dan isyarat ketika suara tidak lagi bisa diandalkan

TINTA PENA



          Hari ini aku baru saja mencoba menyelesaikan salinan ku mengenai pembelajaran Shofie temanku yang dengan beruntungnya pernah mencicipi pahit manisnya suasana Kampung Inggris di Pare. Tapi, ditengah-tengah tulisan yang berjajar membentuk kalimat yang didalamnya terkandung berbagai makna berkaitan dengan grammar di bidang yang sedang kutekuni ini. Tiba-tiba saja, tulisanku memudar………………tinta pena yang kupakai hampir saja menyisakan ruangan isi tinta pena yang semula berisi tinta hitam setengahnya kini malah terlihat kosong lebih dari setengahnya; bahkan terlihat akan segera lengah dari tinta-tinta itu. Tahu apa yang didapatkan oleh penulis ini, warna tulisan yang memudar itu indah, dia membawa warna tersendiri ketika si penulis diawal tadi disibukkan dengan warna hitam berjajar dari awal pragraf.
          Seringkali kita tidak menyadari betapa suatu hal yang berbeda itu indah dan menyenangkan untuk dinikmati. Beberapa waktu sebelum suatu hal yang berbeda datang kita terkukung dalam perasaan bahagia atau biasa saja; saking bahagia atau normalnya perasaan kala itu, kita menjadi terbuai dengan keinginan untuk tidak ingin melepaskan atau sekedar kehilang hal tersebut. Iya kita bertahan, bertahan entah karena tidak ingin perasaan bahagia itu sirna, entah karena ingin terus berdamai dengan situasi tanpa ada embel-embel tekanan kanan kiri, atau karena situasi saat ini sudah lebih baik biarpun terkesan flat tapi setidaknya tidak ada yang harus dipusingkan. Mungkin kita memang tidak merasa bosan, saking tidak pernah merasa bosan kita sampai lupa bahwa disana ada hal berbeda yang harus kamu coba. Tidak, tidak……….jangan mencoba, sebuah hasil atas apa yang kamu lakukan selalu datang seperti misteri jadi lebih baik jangan sekali-kali mencoba terlebih jikalau kau sedang dalam situasi berdamai dengan sekitar. Jadi, kalian ingin pilih mana? Tetap bertahan dengan apapun alasannya atau ………………..mencoba sesuatu yang baru?
          Tanpa kita harus mencoba, sesuatu yang baru akan benar-benar datang. Menguji seberapa hebatnya Makhluk ciptaan Tuhan ini. Jangan disebut menguji, terdengar sangat menakutkan, panggil saja menggoda agar lebih terlihat menantang.  Iya seperti tinta pada pena yang tiba-tiba saja memudarkan warnanya menjadi keabu-abuan, sungguh bukan hal yang diharapkan oleh penulis atau dapat diprediksi kehadirannya. Tapi, mari kita menikmati. Warna keabu-abuan itu indah, berbeda dengan hitam; walaupun hampir, tapi tetaplah berbeda jika melihat keabu-abuan itu diujung sebuah paragraf yang sejak awal sudah tertulis dengan tinta hitam.

RANCAU



          Apa kamu bisa melihat fatamorgana? Iya, fatamorgana. Sesuatu hal yang tidak benar-benar ada seperti yang terlihat oleh kedua mata ini. Ada banyak hal yang kita anggap ada, tapi tidak benar-benar ada. Tidak banyak pula yang kita anggap bayangan justru benar-benar ada. Lalu dimana letak pembenaran sebuah perkiraan? Berhentilah mengira, tapi bukankah sebagai manusia kita dituntut untuk selalu berpikiran baik; seburuk apapun sebuah hal terjadi. Dibanding menyalahkan dan terus menyesalkan bukankah lebih baik melepaskan-melupakan. Dan yah, anggap saja semua baik-baik saja. Menjadi manusia yang tiada habisnya untuk berpikiran positif, hanya ingin berusaha berdamai dengan situasi yang ada dan berusaha mempertahankan apa-apa yang seharusnya tidak hancur hanya karena hal-hal sepele.
          Kenapa kamu bercerita hal berbeda dari kenyataanya? Kamu berbohong, iya memang berbohong. Tapi tidakkah kamu memang tidak pernah mengerti alasannya. Aku sedang berusaha menjaga nama baik seseorang, dan nama baikku sendiri. Aku melakukan segala sesuatunya dengan berpikiran panjang, bahkan aku tidak tahu yang berusaha berpikiran panjang justru malah menjatuhkan sebuah hubungan yang ada. Aku sedang menyelamatkan situasi jikalau hal buruk itu benar-benar terjadi, setidaknya tidak berpengaruh pada penonton yang lain jikalau kita berada dalam satu stage.
          Ah, lalu petir membangunkan tidur panjang sang putri tidur. Lalu penyihir pun menyuruhnya melihat segala sesuatu lebih realistis. Bahwa mimpi hanyalah mimpi, tidak pernah berarti apa-apa seperti yang terlihat. Putri tidur sempat melawan karena dia merasa selalu disiksa oleh mimpinya, tapi penjelasan yang selalu ia terima dari nenek sihir tiap dibangun tidurnya dan memang hal-hal sekitar yang tidak pernah mengirimkan arti mimpi. Membuatnya sadar, bahwa mimpi hanyalah mimpi yang tidak pernah berarti apa-apa, hanyalah bunga tidur yang sering disebut bunga; tapi justru mengganggu. Bahwasannya, tidur yang nyenyak adalah tidur terlelap tanpa mimpi dan terbangun bahagia; bukan nestapa.

Jumat, 01 Mei 2015

PERTEMANAN CEGITU SIH


          Malam ini, mati lampu………………dan karena tidak ingin membuang banyak waktu penulis memutuskan untuk menuliskan sesuatu disini.Beberapa hari yang lalu, Penulis sedanmg mendapatkan suatu curhatan mengenai pertemanan. Then the writer got the topic to make a sentences in some paragraph. Lets read.
          Pertemanan adalah…………..ada yang tahu definisi pastinyakah? Singkatnya mungkin hubungan antara beberapa orang yang merasa dekat satu sama lain. Ya kurang lebih gitu sih. Penulis yakin tanpa menjabarkan definisi pertemanan pastilah kalian para pembaca sudah tahu apa itu pertemanan. Tepatnya itu bukan sesuatu hal yang bisa atau harus dideksripsikan dalam kalimat, tentunya kalian masing-masing akan menemuinya.
          Penulis pernah membaca disalah satu tulisan seorang penulis “titik,koma” yang kurang lebih begini “ kalau memang teman adalah teman, bertemanlah dengan siapapun. Bergaul baru pilih-pilih……….”  - lupa nama penulisnya. Yap, bertemanlah dengan siapapun, carilah teman sebanyak-banyaknya.Dalam beberapa event motivasi atau seminar atau apalah, beberapa orang hebat tidak jarang memberi saran kepada para penonton atau audiencenya kala itu bahwa salah satu jalan menuju sukses adalah berteman dengan banyak orang, iya berteman dengan siapapun. Tapi yang ingin penulis bahas disini bukan tentang jalan menuju sukses atau apalah; dikarenakan penulis juga bukan orang hebat seperti para motivator era-era ini (in process…………)
          Tunggu, ini ngeblank.Materinya berantakan, dan penulis tidak sempat bahkan memang tidak pernah membuat brainstorming dalam tiap penulisan artikelnya, kecuali dalam matkul writing dikampus, haha.
          Kita tidak harus mempermasalahkan teman yang datang dan pergi seenaknya /seenak jidatnya maksudnya/ bukankah “datang disaat gelap dan pergi disaat terang” adalah sifat manusia yang diera-era ini terlihat sangat manusiawi.Menulis pernyataan tersebut tidak berarti bahwa semua manusia seperti, tidak berarti bahwa penulis pro dengan manusia-manusia semacam itu – tidak berarti juga penulis pro dengan para manusia yang selalu menyalahkan manusia-manusia seperti itu. Secara perasaan (karena penulis perempuan) beberapa dari kita jelas tidak begitu nyaman menerima kehadiran manusia yang datang hanya saat dia membutuhkan, tapi kita bisa apa ?bukankah dengan adanya manusia-manusia seperti itu, membuat kita menjadi lebih belajar untuk menerima dan ikhlas dalam berteman. Itulah mengapa diawal tadi sudah penulis tuliskan bahwa bertemanlah dengan siapapun. Dengan memiliki banyak teman, tentunya tidak akan membuat kita terlalu memusingkan manusia-manusia yang datang hanya ketika butuhnya saja. Tapi, ada banyak teman atau tidak disekitar kita tetaplah berpositif thinking. Percayalah bahwa segala sesuatu didunia ini tidak terjadi begitu saja, seorang teman yang datang dan pergi begitu saja tentunya memiliki alasan selain sekedar dengan alasan “karena urusannya dengan kita sudah selesai” ,yah tapi penulis tidak memungkiri bahwa tetap saja ada manusia yang alasannya hanya satu………..ya alasan yang itu saja.
          Teman, dia juga manusia.Kita juga manusia; hei kita disini semua sedang membicarakan manusia.Manusia yang merasa selalu didatangi ketika butuh dan lalu berakhir merasa kehilangan, dan Manusia yang seenak jidatnya datang dan pergi; datang ketika butuh dan pergi ketika kelar. Bukankah bisa saja tanpa sadar Manusia Pertama itu bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Manusia Kedua dan bahkan sebaliknya ? . Terkadang pemikiran kita berjalan seperti peribahasa “Kuman disebarang terlihat, Gajah didepan mata buram” – yakuranglebihgitu.Iya, terkadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesalahan teman kita, tanpa mau melihat letak kesalahan kita dimana.Parahnya, kita terlalu cepat merasa kehilangan tanpa ada usaha untuk mengembalikan keadaan oh bukan mengembalikan keadaan, tapi mempertahankannya. Teman adalah teman, dia tetaplah manusia yang memiliki kebebasan menentukan langkah apa yang ingin dia ambil, sekalipun langkah itu adalah “pergi ketika urusan kelar” belajarlah menerima-menghargainya. Naif, kata “menerima-menghargai” atau yang senada dengan “ikhlas dalam pertemanan” adalah kata-kata naïf yang dibuat sok halus agar terlihat baik, tapi bukankah merasa terluka, negative thinking dan meronta adalah hal yang wajar pula dalam merespon adanya tingkah teman yang semaca itu? Bukankah lebih baik menjadi apa adanya. Menjadi seperti apa yang dipikirkan oleh dirimu, tanpa harus sok baik-sok nerima-sok ikhlas.
          Sesungguhnya dalam hati manusia, seburuk apapun itu; tetaplah tersimpan kebaikan walau sedikit dan kebaikan yang dapat kita sadari ini bisa menjadi lebih besar kalau saja kita benar-benar mampu mengalahkan yang buruk. Its mean that, sebenci dan sesakit apapun rasanya diperlakukan oleh teman sendiri, tetap saja penulis meyakini bahwa masih ada kebaikan yang tersimpan dala hati kita. Hei, ini teman; teman kita sendiri.Pantaskah kita membenci?Pantaskah kita tidak memaklumi kesalahannya?Bukankah kita juga pernah salah? ; jawabannya adalah maafkanlah apabila itu menyakitkan, dan tetaplah positif thinking seburuk apapun situasi akan terbentuk. Kita sebagai teman memang fungsinya adalah selalu ada untuk yang merasa/dirasa menjadi teman kita, tanpa mengharapkan imbalan apapun.Tapi tentunya, sebuah sikap pertemanan sudah sepantasnya dibalas dengan sikap pertemanan tanpa harus diminta. Dengarkanlah temanmu, berikan dia saran bila memungkinkan, ikuti dan pahami emosinya, tenangkanlah, peringatkanlah jika dia salah, tertawalah bersamanya ; lakukan hal-hal seperti itu dengan ikhlas dalam sebuah pertemanan, maka hal-hal kecil seperti itu pula yang akan berbuah menjadi kebaikan. Percayalah bahwa hukum alam tentang kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dengan segala kekuatan tuhan itu benar adanya.
          Lalu bagaimana dengan bagian menangis bersama, ceritakan masalahmu, tumpahkan amarahmu, katakana hal-hal yang tidak kau sukai darinya; apakah hal itu tidak harus disampaikan senada dengan hal-hal paragraph sebelumnya, ikhlas-tulus?Tidak, maksudnya itu terserah kalian.Merupakan hak masing-masing untuk melakukan hal tersebut. Yang penulis lihat dari beberapa pertemanan, ada beberapa pertemanan yang berjalan begitu lama,  padahal selama waktu yang terlewat oleh pertemanan itu hanya salah satu pihak yang sangat antusias menjadikan pertemanan sebagai tempat meneduh-berlindung-berakhir, sedangkan pihak satunya hanya seperti penonton-pendengar-pemberi saranTapi, kenyataanya mereka bertahan bukan?. Inilah kekuatan sebuah pertemanan, keikhlasan-ketulusan dala menerima dan memberi. Kebaikan tetaplah akan mendapatkan tempat terbaik dan balasan terbaik, hanya saja itu butuh proses. Pada akhirnya yang hanya hobi berkeluh kesah-berteduh-menangis-meronta di temannya, lama-kelamaan akan bisa belajar menjadi sosok yang peka dan pendengar yang baik; hanya butuh proses bagi yang mau bersabar. Kalaupun satu sama lain tidak berjalan seimbang untuk saling memberi dan menerima, itu hak masing-masing untuk mengambil sikap diwaktu yang disebut “cukup, ini melelahkan”.
          Bukalah pintu bagi siapapun yang ingin datang kepadamu, seburuk apapun cara dia datang dan lalu pergi, karena mungkin bisa jadi itu adalah salah satu cara paling mudah agar kita bisa berguna untuk orang lain. Bertemanlah dengan siapapun, siapapun………………agar bila nantinya kita akan kehilang salah satu atau lebih, tidak akan menjadi cukup sulit untuk menerima keadaan yang akan berubah. Penulis tidak sama sekali menyuruh kalian buta akan sebuah kehilangan dan kepergian, hanya saja selagi kita masih bisa berbuat baik dan berguna untuk orang lain, kenapa harus melewatkan kesempatan itu? Kehilangan dan kepergian adalah cobaan, adalah bagian paling hebat untuk menguatkan dan menggambarkan sejauh mana kita menjadi sosok yang ikhlas dan tulus dalam pertemanan.Jangan genggam temanmu terlalu erat.Berjalanlah disampingnya, tanpa harus mengenggamnya erat; karena genggaman itu bisa menyakitkan salah satu atau bahkan keduanya. Bebaskan dia seperti angin, tidak semua teman akan benar-benar sebebas angin, hanya sahabat yang tentunya siap bertahan menjadi udara disekitarmu; yang akan bertahan satu sama lain melanggar sifat udara yang ada dibuku sains.

“Teman yang sebenarnya tidak akan menjadi bayanganmu yang terlihat ketika ada cahaya dan menghilang ketika gelap menghampiri.Tapi tidak semua teman bisa menjadi “teman yang sebenarnya”, dan tidak semua teman bisa menjadi “sahabat”.Tidak peduli bagaimanapun nanti, carilah teman seluas-luasanya. Dan biarkan “saling menerima-memberi dengan ikhlas” menjadi langkah pertemananmu berjalan jauh menembus waktu “ – Sekian


 
EBBELL STORIES Blogger Template by Ipietoon Blogger Template