Malam ini si pemilik blog ini lagi
tumben-tumbenan enggak ada tugas, yah tepatnya karena tugas presentasi IBJ
sudah kelar dikerjakannya sejak hari sabtu kemarin. Yap, keren enggak. Tugas
presentasi hari selasa sudah dikelar dihari sabtu? Tepatnya entah karena rajin
atau emang karena dosennya yang berhasil merebut hati penulis ini. Eits, tapi
gue enggak menyalahi kodrat kok………..dosen tetaplah dosen, dan mahasiswa
tetaplah mahasiswa gue cukup tahu bagaimana hukum alam berjalan
/apasihiningelantur// . Back to the topics……sebenernya penulis ini pengen
nyeritain bagaimana perjuangan seorang mahasiswa ngelaju yang barusan berhasil
mendarat dirumahnya setelah harus bersaing dengan hujan, petir dan aliran air
yang meluap; tergenang alun di jalan raya menutupi lubang jalan membuat
pengendara agak was-was untuk ngebut. Okay,
Adzan ashar terdengar disela-sela mata
kuliah keagamaan yang enggak mungkin gue sebut apa nama matkulnya /hihi/ jeda
beberapa menit setelah adzan gue ngelihat rintik air terlihat jelas dan semakin
jelas di jendela kelas. Mendengus dalam bathin gue dengan penuh keyakinan bahwa
motor gue pastilah kehujanan hfftt. Yagitu, yagini………………jangan nyimpulin
macam-macam dulu gimana motor gue bisa kehujanan, dilogika secara diam saja.
Lalu setelah dengusan itu, gue pun mengabaikan hujan yang seenaknya menguyur
dunia tanpa bisa diprediksi manusia; manusia kayak gue tepatnya. Jeda beberapa
menit (tepatnya berpuluh-puluh menit setelah gue mengabaikan hujan) akhirnya…………matkul
keagamaan ini selesai juga,hoamzzz. Dan dosen pamit, dan gue babay cantikzz
itempat /anggg///.
Keluar dari kelas, betapa gue enggak
terkejut……….yagitu hujannya masih, malah langitnya makin gelap. Dari lantai 2
gedung yang sebenernya berlantai 4 ini, terlihat jelas banyak mahasiswa-mahasiswi
yang juga terjebak hujan dan mereka pada sok-sokan nepi dibalkon sambil
dengerin music pake headset; dengan penuh keyakinan gue sangat amat yakin
mereka sedang baper karena hujan menjebak mereka dimasa lalu #eaaak. Gue
sebagai manusia pengamat pun sok-sokan ikut nepi dibalkon, lalu tertarik
mengikuti kegiatan mereka dengerin music pake headset, setelahnya gue merasa
terserang kebaperan yang tidak teramat sangat dan gue memutuskan untuk duduk
saja dikursi dekat tangga sambil ngebaca bukunya bang vabyo. //Oke, bye baper
jangan mentang-mentang kenangan elu kuat, gue jadi bisa dibaperin oke. Sekian alaynya.
// . Tiktoktiktok……………………….tersadar dari dunia bang vabyo yang menghipnotis lewat bukunya, dan melihat pemandangan hampa
disana; rintik hujan-itu-masih. Jam sudah menunjukkan pukul 5 dan its mean that
gue udah sekitar 1 jam-an lebih menunggu keajaiban tuhan untuk menghentikan
hujan yang makin tragis dengan adanya petir yang menyambar menyentuh bumi. Anak-anak
sastra 2B pun turun dengan kompaknya, yap mereka baru saja menyelesaikan sebuah
permainan klasik nan modern yang dulu waktu jaman putih abu-abu sering banget
gue mainin; truth or dare. Mereka yang sejak tadi menunggu hujan reda pun
akhirnya menyerah dan memutuskan “tak pulang wae lah……..kelamaan nunggu hujan”
yah kurang lebih seperti itu. Gue dengan wajah sok ceria menyambut keluhan
mereka dengan manis “pulanglah nak……pulang” /helleh/. Yap, dan benar beberapa
dari mereka pun pulang dan beberapanya menunggu diperpus. Kini hanya ada Gue
dan Nadia dilantai 2 itu, eh ada kaka senior juga sih………tapi karena gue enggak
kenal mari kita anggap itu tidak terlihat.
Jam menunjukkan pukul 6, pukul 6 coy………….anak
prodi apa yang jam 6 belum pulang? Ya banyak -___- yakali masa’ enggak ada. Yap
jam 6, sepertinya keteguhan hati gue meluruh meluap dan merapuh #eaak , tapi
gue harus nunggu sampe babenya Nadia jemput karena diwaktu itulah tepat gue
bisa pulang; mengingat kondisi motor gue yang enggak bisa dinyalakan dengan
satu orang, HAHA (ywkim-lah……). Setelah beberapa menit menanti, akhirnya
adiknya Nadia yang bernama Gilang itu pun datang lewat sms membawa kabar
bahagia, bahwa Nadia akan dijemput dengan ayahnya bahkan beliau sudah on the
way. Aku dan Nadia pun /mulaibaku/ segera turun dari lantai 2, kami pun
berhati-hati melintasi jalanan yang licin, dan benar saja……….jalanan dari
gedung fakultas ke depan kampus banjir, hiks ;_: banjir semata kaki sih,wkwkw.
Gue dengan cepatpun mengambil motor dan menyalakannya dengan bantuan Nadia si
manusia kurus nan kuat itu. Lampu depan motor menyala disertai dengan mesin
yang mulai nga-ngeng-nga-ngeng………….tinggal menarik gas motorpun berjalan dengan
halusnya melintas air yang menggenang lalu membelahnya, dan jipratannya
berakhir mengenai roknya Nadia. Yah, selamat berbahagia Nadia berikut adalah
konsekuensi membonceng Aya ditengah hujan yang mendera dan banjir yang
menggenang. Berhubung Nadia sudah dijemput oleh Ayahnya, gue pun menurunkan Nadia
tepat didepan masji kampus. Dia pun meminta gue buat jalan lebih dulu, tanpa
harus nungguinn bokapnya yang bakal jemput. Oke, gue tancap gas dengan mengigil
karena hujan kala itu yang benar-benar dingin; padahal gue pake jas hujan
>,< .
Yap, Jalan Jogja-Solo sore itu ramai
luar biasa. Hujan semakin lama semakin deras, dan dingin mulai menyelimuti
tubuh mungil ini. Semakin jauh meninggalkan Kartosuro dan masuk di Perbatasan
Klaten-Solo hujan semakin menunjukkan grafik derasnya ditambah dengan entah apa
bentuknya yang jelas ketika hujan itu mengenai wajah terasa sangat sakit.
Alhasil, gue terpaksa harus menutup kaca helm, tapi oh sial tapi…………….ketika
kaca helm ditutup justru jalanan didepan tidak terlihat jelas karena debit
hujan yang semakin deras dan membuat segalanya terlihat blur. Yap, berikut
adalah segment dilematis pengendara motor antara harus membuka kaca helm demi
melihat pandangan jalan didepan dan berjaga-jaga apabila ada lubang jalan yang
menganga atau harus menutup kaca helm untuk melindungi wajahnya yang akan
terhantam oleh bongkahan es apabila kaca helm dibuka. Belum cukup sampai
disitu, hujan semakin menguji emosi gue dengan adanya genangan air yang menutup
lubang dijalan, oh shit…………….aku berulang-ulang menghantam lubang dijalan
dengan ban motor tanpa sengaja /pukpukin ban motor/ . Akhirnya opsi terakhir
yang bisa dipilih mungkin adalah dengan mengendari motor dengan kecepatan 20
km/jam seraya menepi dan membiarkan truk-truk kampret itu lewat menyalip.
Perjalanan pun menjadi semakin lama, sangat lama………….padahal dingin hujan kala
itu benar-benar membuat menggigil belum lagi petir yang menyambar cantik
menakutkan manusia.
Adzan isya berkumandang indah
menyejukkan hati, mengingatkan diri bahwa pengendara ini tadi belum sempat
shalat ashar dan maghrib /astaghfirullah/ lalu semakin membentak diri, INI UDAH
ISYA DAN ELU MASIH DIJALAN BAHKAN BELUM SAMPE RUMAH >,,< ah begitulah
kiranya. Dan……..”tintintintin”-bunyi klakson motor yang reflex gue keluarkan,
yap tepat didepan gue tanpa sadar ada 2 motor berhenti ditengah jalan, dan gue
baru menyadari keberadaanya disaat gue sedang focus melihat spion melihat truk
lalu-lalang isebelah kanan. Yap, untung rem motor gue cukup cakram dan cekatan
dalam mengambil tindakan dan untungnya gue cukup pintar dalam mengarahkan motor
ke arah yang tepat. Waw, hampir saja…….sangat hampir saja. Kalau tadi gue
lengah untuk waktu yang lama mungkin gue akan menabrak kedua motor yang
berhenti ditenganh itu, atau kemungkinan terbesar; sekaligus yang paling
mengerikan adalah ban motor gue menginjak kaki penggunan motor yang berhenti
tadi. Oh shit, bayangan yang menakutkan, okay positive thinking, istighfar. Gue
berhenti sejenak menepi, dan sepertinya tidak terjadi apa-apa terhadap 2 motor
yang barusan gue lewatin dengan klakson nyaring tadi. Huft, baiklah lanjutkan
perjalanan. Gue harus cepat pulang, gue caperk. Tapi alhamdullilah beberapa
detik setelahnya hujan reda, walaupun tidak sepenuhnya reda tapi setidaknya si
Hujan mulai menurunkan kadar debitnya menjadi lebih lirih dan sudah tidak
begitu menusuk apabila terkena di wajah. Yap, dan itu adalah waktu yang paling
tepat untuk menambah kecepatan. Dan berikutlah…………….perjuangan seorang anak
laju, yang harus menempuh jarak dalam waktu 1 jam paling lama atau 45 menit
paling cepat untuk sampai dikampusnya. Belum lagi, jika dijalan dia harus
bertemu dengan hujan,petir,angin,macet,kecelakaan dan semacamnya. Belum lagi,
jika dia harus berurusan dengan tugas yang otomatis membuat dia akan pulang
lebih malam dari biasanya, jelas malam. Karena kuliah saja kelar jam 4.20 terus
habis itu masih ngerjain tugas wifian dikampus, terus pulang jam berapa ?
yagitu, nikmatin aja.
Akhirnya, gue sampai desa ngrundul
tetangganya desa karangnongko; tempat rumah gue berada. Subhanallah, dengan
suasana pedesaan yang kental dimanan kanan-kirinya hamparan sawah yang luas
dari pojok desa ngrundul sampai perbatasn di desa soran. Luar biasa, kuasa
tuhan dan keindahan alam tergambar indah, bisa kulihat kelap-kelip cahaya
kunang-kunanga memenuhi permukaan sawah, mereka berkelompok dan sangat kecil
untuk bisa kusapa satu persatu. Sedangkan jauh didepan sana terlihat berbagai
cahaya lampu yang menyebar dari Lereng Gunung Merapi yang bisa dilihat dari
jalanan menuju kerumahku. Disini sepi, gelap dan dingin, aku mungkin lelah dan mengigil tapi keindahan
alam yang ditelan malam kala itu memudarkan segalanya, memudarkan kesunyian dan
rasa lelah yang hinggap pada penulis ini.
“Tidak
ada perjuangan yang sia-sia didunia ini, perjuangan selalu terbayar seimbang
dengan hasil. “ – Aya


