Minggu, 28 September 2014

WAKTU ITU DATANG JUGA


         Setelah apa yang pernah kita lewati, aku percaya waktu terus berputar melampaui tiap kisah yang dibuat. Layaknya waktu yang terus berputar pada porosnya menghabiskan 24 jam, lalu membuat 24 jam yang akan datang dan terus berulang seperti itu. Kita sama-sama tidak tahu bagaimana perhitungan waktu dalam membuat berbagai hal yang sudah kita lewati, walaupun aku sendiri percaya bukan waktu yang membuat semua ini terjadi melainkan kita sendiri, para pelakunya. Tetapi bukankah lebih sering kita mengingatnya dengan “waktu itu.............” “andaikan aku bisa kembali ke waKtu itu............” sesederhana itu kita mengingatnya, bersama waktu hingga munculah senyum yang mengambang-buliran airmata-mata yang terus bertanya (re:gimmick muka ketika flashback)
          Apa yang sudah terjadi, begitu banyak hal.........aku percaya tidak mungkin hanya akan menjadi suatu hal yang tak berarti apa-apa diantara kita satu sama lain. Akan ada waktunya salah satu dari kita mengatakan terlebih dahulu, bagaimana caranya menfasirkan semua ini. Aku tahu, bahkan bisa memprediksi waktu itu akan terjadi, tapi tetap saja bukan aku pelakunya yang mengatakan terlebih dahulu. Sesungguhnya aku sebagai pelaku hanyalah seperti pemain belakang layar yang ditarik oleh pemain utama untuk menikmati semua ini. Namun pada akhirnya, aku benar-benar menikmati ini. Entah hanya dipihakku atau dipihaknya juga, aku hanya  merasa sebagai pemain pembantu.
          Pernah ada suatu masa ketika aku merasa sangat bersalah, sangat bersalah karena semua menjadi lebih jelas. Setelah semua yang dilewati seolah abu-abu, ketika ada yang memulai untuk menafsirkan semua ini, aku merasa abu-abu ini menjadi lebih putih. Tapi maksudku, aku tidak begitu menginginkan semua menjadi lebih jelas, aku hanya ingin segala sesuatu akan berjalan apa adanya. Karena jauh sebelum semua menjadi jelas, aku sudah dapat menebak akan seperti apa maksud dari jelas itu, terkadang suatu kejelasan hanya akan membuat kita takut , atau berhenti . Tunggu, mungkin bukan “kita” tapi hanya di pihakku. Ketika yang ke sebut jelas itu benar adanya, benar terjadi tahukah.........aku hanya bisa bernafas, tertawa dengannya, dan terdiam membaca chatnya - dengan penuh rasa bersalah, hatiku berkata “ini salah, hentikan...........” tapi bodohnya masih saja ku teruskan. Bukankah terlihat bodoh, ketika aku merasa sangat bersalah, tapi aku tetap datang seolah menerima apa yang dia katakan malam itu. MAAF
          Bukankah dari awal sudah aku tuliskan, Aku ingin semuanya berjalan begitu saja, tanpa harus ada alasan atau suatu hal yang disebut “jelas”. Toh, dengan kondisi yang terjadi sekarang, aku mulai percaya. Akan ada masanya semua hal yang kusebut indah ini berakhir . Terkadang aku hanya ingin menikmati semua ini, biar berjalan sebagaimana mestinya karena aku tahu hal-hal yang kusebut indah ini akan berakhir menghilang dengan segara. Tapi, apa aku bisa..........ketika segala hal itu sudah menjadi seperti kebiasaan. Kalau bukan dengannya , lalu siapa seseorang yang bisa membuatku merasa sangat dihargai ? apa aku seburuk itu, sampai hanya dia satu-satunya makhluk yang bisa membuatku sangat berharga untuk waktu yang lama. Hal-hal kecil yang dia buat, selalu berhasil membuatku bahagia, atau sekedar tersenyum dalam hati --- ditulis ketika aku merindukkanya.
          Ketika aku menulis artikel ini, hal akhir yang aku maksudkan sudah terjadi adanya. Beberapa hari ini aku berada di titik merindukan dia , membutuhkannya...........tapi, dia bersikap sebaliknya. Aku perlahan mulai memahami beberapa hal yang dia post, iya baik dia memintaku pergi. Entahlah, selama ini aku hanya berpikir positif mungkin dia sedang sibuk, mungkin dia sedang banyak tugas makalah seperti aku saat ini. Aku benar-benar merindukan dia. Aku membutuhkannya untuk bercerita tentang lingkungan baruku saat ini, tentang partner baruku yang tidak pernah satu pemikiran denganku, tapi bukankah aku sangat egois bila harus menceritkan ini disaat dia sedang belajar fokus. Aku harus berhenti.....
          Dia, diamanapun dia berada sekarang . Baik-baik disana, dan jangan terluka. Nantinya bukan aku yang akan mendengarkan keluh kesahmu, jadi aku hanya ingin kau baik-baik disana , dan jangan biarkan aku kembali mengkhawatirkanmu dalam diam. Aku akan berhenti. Terimakasih sudah menjadi teman terhebat dalam hidupku. Mari kita buat tidak pernah terjadi apa-apa antar kita, maaf ya bila di prosesnya nanti mungkin aku sering merindukanmu.
“karena akan lebih baik semua berhenti, lalu kita tersibuk dalam kegiatan masing-masing. Sesungguhnya aku takut akan ada sesuatu yang salah bila diteruskan............”


Minggu, 28 September 2014

WAKTU ITU DATANG JUGA


         Setelah apa yang pernah kita lewati, aku percaya waktu terus berputar melampaui tiap kisah yang dibuat. Layaknya waktu yang terus berputar pada porosnya menghabiskan 24 jam, lalu membuat 24 jam yang akan datang dan terus berulang seperti itu. Kita sama-sama tidak tahu bagaimana perhitungan waktu dalam membuat berbagai hal yang sudah kita lewati, walaupun aku sendiri percaya bukan waktu yang membuat semua ini terjadi melainkan kita sendiri, para pelakunya. Tetapi bukankah lebih sering kita mengingatnya dengan “waktu itu.............” “andaikan aku bisa kembali ke waKtu itu............” sesederhana itu kita mengingatnya, bersama waktu hingga munculah senyum yang mengambang-buliran airmata-mata yang terus bertanya (re:gimmick muka ketika flashback)
          Apa yang sudah terjadi, begitu banyak hal.........aku percaya tidak mungkin hanya akan menjadi suatu hal yang tak berarti apa-apa diantara kita satu sama lain. Akan ada waktunya salah satu dari kita mengatakan terlebih dahulu, bagaimana caranya menfasirkan semua ini. Aku tahu, bahkan bisa memprediksi waktu itu akan terjadi, tapi tetap saja bukan aku pelakunya yang mengatakan terlebih dahulu. Sesungguhnya aku sebagai pelaku hanyalah seperti pemain belakang layar yang ditarik oleh pemain utama untuk menikmati semua ini. Namun pada akhirnya, aku benar-benar menikmati ini. Entah hanya dipihakku atau dipihaknya juga, aku hanya  merasa sebagai pemain pembantu.
          Pernah ada suatu masa ketika aku merasa sangat bersalah, sangat bersalah karena semua menjadi lebih jelas. Setelah semua yang dilewati seolah abu-abu, ketika ada yang memulai untuk menafsirkan semua ini, aku merasa abu-abu ini menjadi lebih putih. Tapi maksudku, aku tidak begitu menginginkan semua menjadi lebih jelas, aku hanya ingin segala sesuatu akan berjalan apa adanya. Karena jauh sebelum semua menjadi jelas, aku sudah dapat menebak akan seperti apa maksud dari jelas itu, terkadang suatu kejelasan hanya akan membuat kita takut , atau berhenti . Tunggu, mungkin bukan “kita” tapi hanya di pihakku. Ketika yang ke sebut jelas itu benar adanya, benar terjadi tahukah.........aku hanya bisa bernafas, tertawa dengannya, dan terdiam membaca chatnya - dengan penuh rasa bersalah, hatiku berkata “ini salah, hentikan...........” tapi bodohnya masih saja ku teruskan. Bukankah terlihat bodoh, ketika aku merasa sangat bersalah, tapi aku tetap datang seolah menerima apa yang dia katakan malam itu. MAAF
          Bukankah dari awal sudah aku tuliskan, Aku ingin semuanya berjalan begitu saja, tanpa harus ada alasan atau suatu hal yang disebut “jelas”. Toh, dengan kondisi yang terjadi sekarang, aku mulai percaya. Akan ada masanya semua hal yang kusebut indah ini berakhir . Terkadang aku hanya ingin menikmati semua ini, biar berjalan sebagaimana mestinya karena aku tahu hal-hal yang kusebut indah ini akan berakhir menghilang dengan segara. Tapi, apa aku bisa..........ketika segala hal itu sudah menjadi seperti kebiasaan. Kalau bukan dengannya , lalu siapa seseorang yang bisa membuatku merasa sangat dihargai ? apa aku seburuk itu, sampai hanya dia satu-satunya makhluk yang bisa membuatku sangat berharga untuk waktu yang lama. Hal-hal kecil yang dia buat, selalu berhasil membuatku bahagia, atau sekedar tersenyum dalam hati --- ditulis ketika aku merindukkanya.
          Ketika aku menulis artikel ini, hal akhir yang aku maksudkan sudah terjadi adanya. Beberapa hari ini aku berada di titik merindukan dia , membutuhkannya...........tapi, dia bersikap sebaliknya. Aku perlahan mulai memahami beberapa hal yang dia post, iya baik dia memintaku pergi. Entahlah, selama ini aku hanya berpikir positif mungkin dia sedang sibuk, mungkin dia sedang banyak tugas makalah seperti aku saat ini. Aku benar-benar merindukan dia. Aku membutuhkannya untuk bercerita tentang lingkungan baruku saat ini, tentang partner baruku yang tidak pernah satu pemikiran denganku, tapi bukankah aku sangat egois bila harus menceritkan ini disaat dia sedang belajar fokus. Aku harus berhenti.....
          Dia, diamanapun dia berada sekarang . Baik-baik disana, dan jangan terluka. Nantinya bukan aku yang akan mendengarkan keluh kesahmu, jadi aku hanya ingin kau baik-baik disana , dan jangan biarkan aku kembali mengkhawatirkanmu dalam diam. Aku akan berhenti. Terimakasih sudah menjadi teman terhebat dalam hidupku. Mari kita buat tidak pernah terjadi apa-apa antar kita, maaf ya bila di prosesnya nanti mungkin aku sering merindukanmu.
“karena akan lebih baik semua berhenti, lalu kita tersibuk dalam kegiatan masing-masing. Sesungguhnya aku takut akan ada sesuatu yang salah bila diteruskan............”


 
EBBELL STORIES Blogger Template by Ipietoon Blogger Template