Setelah
apa yang pernah kita lewati, aku percaya waktu terus berputar melampaui tiap
kisah yang dibuat. Layaknya waktu yang terus berputar pada porosnya
menghabiskan 24 jam, lalu membuat 24 jam yang akan datang dan terus berulang
seperti itu. Kita sama-sama tidak tahu bagaimana perhitungan waktu dalam
membuat berbagai hal yang sudah kita lewati, walaupun aku sendiri percaya bukan
waktu yang membuat semua ini terjadi melainkan kita sendiri, para pelakunya.
Tetapi bukankah lebih sering kita mengingatnya dengan “waktu itu.............”
“andaikan aku bisa kembali ke waKtu itu............” sesederhana itu kita
mengingatnya, bersama waktu hingga munculah senyum yang mengambang-buliran
airmata-mata yang terus bertanya (re:gimmick muka ketika flashback)
Apa
yang sudah terjadi, begitu banyak hal.........aku percaya tidak mungkin hanya
akan menjadi suatu hal yang tak berarti apa-apa diantara kita satu sama lain.
Akan ada waktunya salah satu dari kita mengatakan terlebih dahulu, bagaimana
caranya menfasirkan semua ini. Aku tahu, bahkan bisa memprediksi waktu itu akan
terjadi, tapi tetap saja bukan aku pelakunya yang mengatakan terlebih dahulu.
Sesungguhnya aku sebagai pelaku hanyalah seperti pemain belakang layar yang
ditarik oleh pemain utama untuk menikmati semua ini. Namun pada akhirnya, aku
benar-benar menikmati ini. Entah hanya dipihakku atau dipihaknya juga, aku
hanya merasa sebagai pemain pembantu.
Pernah
ada suatu masa ketika aku merasa sangat bersalah, sangat bersalah karena semua
menjadi lebih jelas. Setelah semua yang dilewati seolah abu-abu, ketika ada
yang memulai untuk menafsirkan semua ini, aku merasa abu-abu ini menjadi lebih
putih. Tapi maksudku, aku tidak begitu menginginkan semua menjadi lebih jelas,
aku hanya ingin segala sesuatu akan berjalan apa adanya. Karena jauh sebelum
semua menjadi jelas, aku sudah dapat menebak akan seperti apa maksud dari jelas
itu, terkadang suatu kejelasan hanya akan membuat kita takut , atau berhenti .
Tunggu, mungkin bukan “kita” tapi hanya di pihakku. Ketika yang ke sebut jelas
itu benar adanya, benar terjadi tahukah.........aku hanya bisa bernafas,
tertawa dengannya, dan terdiam membaca chatnya - dengan penuh rasa bersalah,
hatiku berkata “ini salah, hentikan...........” tapi bodohnya masih saja ku
teruskan. Bukankah terlihat bodoh, ketika aku merasa sangat bersalah, tapi aku
tetap datang seolah menerima apa yang dia katakan malam itu. MAAF
Bukankah
dari awal sudah aku tuliskan, Aku ingin semuanya berjalan begitu saja, tanpa
harus ada alasan atau suatu hal yang disebut “jelas”. Toh, dengan kondisi yang
terjadi sekarang, aku mulai percaya. Akan ada masanya semua hal yang kusebut
indah ini berakhir . Terkadang aku hanya ingin menikmati semua ini, biar
berjalan sebagaimana mestinya karena aku tahu hal-hal yang kusebut indah ini
akan berakhir menghilang dengan segara. Tapi, apa aku bisa..........ketika
segala hal itu sudah menjadi seperti kebiasaan. Kalau bukan dengannya , lalu
siapa seseorang yang bisa membuatku merasa sangat dihargai ? apa aku seburuk
itu, sampai hanya dia satu-satunya makhluk yang bisa membuatku sangat berharga
untuk waktu yang lama. Hal-hal kecil yang dia buat, selalu berhasil membuatku
bahagia, atau sekedar tersenyum dalam hati --- ditulis ketika aku
merindukkanya.
Ketika
aku menulis artikel ini, hal akhir yang aku maksudkan sudah terjadi adanya.
Beberapa hari ini aku berada di titik merindukan dia ,
membutuhkannya...........tapi, dia bersikap sebaliknya. Aku perlahan mulai
memahami beberapa hal yang dia post, iya baik dia memintaku pergi. Entahlah,
selama ini aku hanya berpikir positif mungkin dia sedang sibuk, mungkin dia
sedang banyak tugas makalah seperti aku saat ini. Aku benar-benar merindukan
dia. Aku membutuhkannya untuk bercerita tentang lingkungan baruku saat ini,
tentang partner baruku yang tidak pernah satu pemikiran denganku, tapi bukankah
aku sangat egois bila harus menceritkan ini disaat dia sedang belajar fokus.
Aku harus berhenti.....
Dia,
diamanapun dia berada sekarang . Baik-baik disana, dan jangan terluka. Nantinya
bukan aku yang akan mendengarkan keluh kesahmu, jadi aku hanya ingin kau
baik-baik disana , dan jangan biarkan aku kembali mengkhawatirkanmu dalam diam.
Aku akan berhenti. Terimakasih sudah menjadi teman terhebat dalam hidupku. Mari
kita buat tidak pernah terjadi apa-apa antar kita, maaf ya bila di prosesnya
nanti mungkin aku sering merindukanmu.
“karena akan lebih baik semua berhenti, lalu kita tersibuk
dalam kegiatan masing-masing. Sesungguhnya aku takut akan ada sesuatu yang
salah bila diteruskan............”


