Setiap
langkah maju seseorang dari tempat kita berdiri, tiap satu langkah sesungguhnya
dia meninggalkan sesuatu pada kita, dengan tujuan agar ketika orang tersebut
hilang; ada banyak hal yang tertinggal dan tidak hilang bersama kepergiannya
untuk kembali pada tuhan.
Kenangan, mungkin ini yang disebut
kenangan. Sesuatu hal yang disengaja atau tidak pastilah akan tertinggal. Mulai
dari yang ditinggalkan dan yang meninggalkan, kenangan tetaplah ada bagi mereka
yang pernah bersama sebelumnya. Kenangan; suatu hal yang memang ada
keberadaanya, hanya saja abstrak perwujudannya bersifat ambigu pada penikmatnya
tapi riil pada bayangan yang dihadirkannya. Apa kenangan sejahat itu
adanya, menjadi sebuah bekas yang tidak bisa kita pegang erat—erat untuk
sesegera dimungkin dilepas bahkan dibuang yang disajikan olehnya hanya sebuah
bayangan riil tentang apa yang sudah terlewat dan keambiguan perasaan yang
datang dan sulit ditebak mana caption yang tepat kala itu.
Ah, tidak. Mungkin penulis ini terlalu
melihat sisi buruk kenangan yang ada. Padahal tidak semua kenangan buruk. Iya
baiklah, aku mengakui bahwa tidak melulu kenangan yang ada dalam hidup para
manusia ciptaan tuhan itu buruk. Didunia ini semuanya seimbang, baik dan buruk
berjalan bersama, mereka memang hal yang berbeda namun sesungguhnya kedua hal
tersebut saling bersejajar berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain yang
kudengar diluar sana si “baik”-lah yang selalu menang dari si “buruk” . Entah
harus setuju atau tidak, tapi aku mengakui bahwa kenangan yang indah sekalipun
bisa memperburuk keadaan; memperburuk suasana-mood-dan perasaan kita (tapi,
kenangan hanyala kenangan…………….akan seperti apapun rasanya semua tetap
bergantung pada penikmatnya) hft. Jadi, kenangan itu………tidak salah?begitukah?.
Beberapa orang bertubi-tubi menyalahkan segala hal yang sudah terlampaui waktu
dan sudah terjadi, mereka hanya tinggal dalam penyesalan tanpa bisa
mengembalikan waktu. Lalu kenapa tidak dari awal saja kenangan itu tidak ada,
otak manusia harusnya tetap bisa menyimpan sesuatu tanpa harus memberik reaksi
berlebihan pada rasa. Sudahlah, sudah…………..penulis ini memang bodoh bisanya
menyalahkan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya, padahal sangat besar
kemungkinan penulis ini lah yang salah dalam memporsikan segalanya.
Kenapa harus ada kenangan dibalik
“setelah hal itu terjadi – setelah semuanya berlalu begitu saja”. Apa sebuah
ingatan harus hilang terlebih dahulu untuk membuat kenangan pergi bersama
dengan pemberinya. Apa segala dibuat sesulit dan serumit ini? . Dari kecil, aku
sering mendengar bahwa segala sesuatu yang terjadi didunia ini adalah cara
tuhan, rencana tuhan dan berdasarkan takdir tuhan. Lalu, apa hal buruk dalam
chapter cerita hidup juga adalah rencana tuhan, takdir tuhankah? Aku percaya,
bahwa tuhan adalah pemilik alam semesta Dialah yang berhak atas bumi dan
isinya. Tapi, aku tidak cukup sanggup meneruskan. Iya, aku memang seperti ini
aku tidak selalu bisa jujur terhadap beberapa hal, yang menurutku aku tidak
perlu jawabannya; karena kepercayaanku sudah menjadi jawaban. Jadi, aku tersisa
hanya harus menerima bahwa dijerumuskan kembali, dibawa lari oleh kenangan
adalah juga merupakan takdir tuhan. Oh tuhan, benarkah sejauh itu takdirMu
bercampur didalam manusia yang hina ini, disisi lain aku berpikir bahwa terjerumusnya
aku, berlarinya aku sejauh itu karena adanya kenangan hanyalah karena aku
sebagai pelaku tidak cukup mengkontrol diriku sendiri, tidak cukup realistis
menghadapi segala hal yang sudah lewat dan tidak mungkin bisa kembali. Tunggu,
aku sebenarnya tidak begitu perlu penjelasannya mana yang sesungguhnya benar
dan salah. Tapi………………ini benar-benar mengganggu.
Seiring waktu berlalu, seiring
pula……………..kenyataan lebih menggambarkan bahwa ini adanya, dan tidak ada yang
bisa kembali dulu. Iya, aku mencoba realistis, aku mencoba membiarkan. Memang
segalanya lebih baik tidak seperti dulu lagi, tapi……….sediam apapun aku;
pikiranku jatuhnya merindukan yang sudah lewat. Jadi ini sebenarnya pikiranku
apa perasaanku sih? Penulis macam apa ini, yang sejauh ini enggak bisa ngerti
bedanya perasaan sama pikiran. Sekeras
aku mencoba melupakan dan bersikap biasa., sesulit itu pula aku mengehentikan
teriak diri untuk ingin seperti dulu. Kamu tahu pemilik tubuh ini dikalahkan
oleh perasaanya sendiri, dia lebih memilih menyakiti pemilik tubuh ini dengan
kenangan-kenangan yang beredar diotak. Melelahkan bukan, sangat amat. Ah, how I
love the memories as I hate the memories. Iyakan?
Baiklah, itu hanya kerinduan semata.
Jangan berlebihan.

