Senin, 27 April 2015

NO NEEDED A TITLE



Setiap langkah maju seseorang dari tempat kita berdiri, tiap satu langkah sesungguhnya dia meninggalkan sesuatu pada kita, dengan tujuan agar ketika orang tersebut hilang; ada banyak hal yang tertinggal dan tidak hilang bersama kepergiannya untuk kembali pada tuhan.
          Kenangan, mungkin ini yang disebut kenangan. Sesuatu hal yang disengaja atau tidak pastilah akan tertinggal. Mulai dari yang ditinggalkan dan yang meninggalkan, kenangan tetaplah ada bagi mereka yang pernah bersama sebelumnya. Kenangan; suatu hal yang memang ada keberadaanya, hanya saja abstrak perwujudannya bersifat ambigu pada penikmatnya tapi riil pada bayangan yang dihadirkannya. Apa kenangan sejahat itu adanya, menjadi sebuah bekas yang tidak bisa kita pegang erat—erat untuk sesegera dimungkin dilepas bahkan dibuang yang disajikan olehnya hanya sebuah bayangan riil tentang apa yang sudah terlewat dan keambiguan perasaan yang datang dan sulit ditebak mana caption yang tepat kala itu.
          Ah, tidak. Mungkin penulis ini terlalu melihat sisi buruk kenangan yang ada. Padahal tidak semua kenangan buruk. Iya baiklah, aku mengakui bahwa tidak melulu kenangan yang ada dalam hidup para manusia ciptaan tuhan itu buruk. Didunia ini semuanya seimbang, baik dan buruk berjalan bersama, mereka memang hal yang berbeda namun sesungguhnya kedua hal tersebut saling bersejajar berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain yang kudengar diluar sana si “baik”-lah yang selalu menang dari si “buruk” . Entah harus setuju atau tidak, tapi aku mengakui bahwa kenangan yang indah sekalipun bisa memperburuk keadaan; memperburuk suasana-mood-dan perasaan kita (tapi, kenangan hanyala kenangan…………….akan seperti apapun rasanya semua tetap bergantung pada penikmatnya) hft. Jadi, kenangan itu………tidak salah?begitukah?. Beberapa orang bertubi-tubi menyalahkan segala hal yang sudah terlampaui waktu dan sudah terjadi, mereka hanya tinggal dalam penyesalan tanpa bisa mengembalikan waktu. Lalu kenapa tidak dari awal saja kenangan itu tidak ada, otak manusia harusnya tetap bisa menyimpan sesuatu tanpa harus memberik reaksi berlebihan pada rasa. Sudahlah, sudah…………..penulis ini memang bodoh bisanya menyalahkan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya, padahal sangat besar kemungkinan penulis ini lah yang salah dalam memporsikan segalanya.
          Kenapa harus ada kenangan dibalik “setelah hal itu terjadi – setelah semuanya berlalu begitu saja”. Apa sebuah ingatan harus hilang terlebih dahulu untuk membuat kenangan pergi bersama dengan pemberinya. Apa segala dibuat sesulit dan serumit ini? . Dari kecil, aku sering mendengar bahwa segala sesuatu yang terjadi didunia ini adalah cara tuhan, rencana tuhan dan berdasarkan takdir tuhan. Lalu, apa hal buruk dalam chapter cerita hidup juga adalah rencana tuhan, takdir tuhankah? Aku percaya, bahwa tuhan adalah pemilik alam semesta Dialah yang berhak atas bumi dan isinya. Tapi, aku tidak cukup sanggup meneruskan. Iya, aku memang seperti ini aku tidak selalu bisa jujur terhadap beberapa hal, yang menurutku aku tidak perlu jawabannya; karena kepercayaanku sudah menjadi jawaban. Jadi, aku tersisa hanya harus menerima bahwa dijerumuskan kembali, dibawa lari oleh kenangan adalah juga merupakan takdir tuhan. Oh tuhan, benarkah sejauh itu takdirMu bercampur didalam manusia yang hina ini, disisi lain aku berpikir bahwa terjerumusnya aku, berlarinya aku sejauh itu karena adanya kenangan hanyalah karena aku sebagai pelaku tidak cukup mengkontrol diriku sendiri, tidak cukup realistis menghadapi segala hal yang sudah lewat dan tidak mungkin bisa kembali. Tunggu, aku sebenarnya tidak begitu perlu penjelasannya mana yang sesungguhnya benar dan salah. Tapi………………ini benar-benar mengganggu.

          Seiring waktu berlalu, seiring pula……………..kenyataan lebih menggambarkan bahwa ini adanya, dan tidak ada yang bisa kembali dulu. Iya, aku mencoba realistis, aku mencoba membiarkan. Memang segalanya lebih baik tidak seperti dulu lagi, tapi……….sediam apapun aku; pikiranku jatuhnya merindukan yang sudah lewat. Jadi ini sebenarnya pikiranku apa perasaanku sih? Penulis macam apa ini, yang sejauh ini enggak bisa ngerti bedanya perasaan  sama pikiran. Sekeras aku mencoba melupakan dan bersikap biasa., sesulit itu pula aku mengehentikan teriak diri untuk ingin seperti dulu. Kamu tahu pemilik tubuh ini dikalahkan oleh perasaanya sendiri, dia lebih memilih menyakiti pemilik tubuh ini dengan kenangan-kenangan yang beredar diotak. Melelahkan bukan, sangat amat. Ah, how I love the memories as I hate the memories. Iyakan?
          Baiklah, itu hanya kerinduan semata. Jangan berlebihan.

Senin, 27 April 2015

NO NEEDED A TITLE



Setiap langkah maju seseorang dari tempat kita berdiri, tiap satu langkah sesungguhnya dia meninggalkan sesuatu pada kita, dengan tujuan agar ketika orang tersebut hilang; ada banyak hal yang tertinggal dan tidak hilang bersama kepergiannya untuk kembali pada tuhan.
          Kenangan, mungkin ini yang disebut kenangan. Sesuatu hal yang disengaja atau tidak pastilah akan tertinggal. Mulai dari yang ditinggalkan dan yang meninggalkan, kenangan tetaplah ada bagi mereka yang pernah bersama sebelumnya. Kenangan; suatu hal yang memang ada keberadaanya, hanya saja abstrak perwujudannya bersifat ambigu pada penikmatnya tapi riil pada bayangan yang dihadirkannya. Apa kenangan sejahat itu adanya, menjadi sebuah bekas yang tidak bisa kita pegang erat—erat untuk sesegera dimungkin dilepas bahkan dibuang yang disajikan olehnya hanya sebuah bayangan riil tentang apa yang sudah terlewat dan keambiguan perasaan yang datang dan sulit ditebak mana caption yang tepat kala itu.
          Ah, tidak. Mungkin penulis ini terlalu melihat sisi buruk kenangan yang ada. Padahal tidak semua kenangan buruk. Iya baiklah, aku mengakui bahwa tidak melulu kenangan yang ada dalam hidup para manusia ciptaan tuhan itu buruk. Didunia ini semuanya seimbang, baik dan buruk berjalan bersama, mereka memang hal yang berbeda namun sesungguhnya kedua hal tersebut saling bersejajar berlomba-lomba mengalahkan satu sama lain yang kudengar diluar sana si “baik”-lah yang selalu menang dari si “buruk” . Entah harus setuju atau tidak, tapi aku mengakui bahwa kenangan yang indah sekalipun bisa memperburuk keadaan; memperburuk suasana-mood-dan perasaan kita (tapi, kenangan hanyala kenangan…………….akan seperti apapun rasanya semua tetap bergantung pada penikmatnya) hft. Jadi, kenangan itu………tidak salah?begitukah?. Beberapa orang bertubi-tubi menyalahkan segala hal yang sudah terlampaui waktu dan sudah terjadi, mereka hanya tinggal dalam penyesalan tanpa bisa mengembalikan waktu. Lalu kenapa tidak dari awal saja kenangan itu tidak ada, otak manusia harusnya tetap bisa menyimpan sesuatu tanpa harus memberik reaksi berlebihan pada rasa. Sudahlah, sudah…………..penulis ini memang bodoh bisanya menyalahkan apa-apa yang menjadi bagian dari hidupnya, padahal sangat besar kemungkinan penulis ini lah yang salah dalam memporsikan segalanya.
          Kenapa harus ada kenangan dibalik “setelah hal itu terjadi – setelah semuanya berlalu begitu saja”. Apa sebuah ingatan harus hilang terlebih dahulu untuk membuat kenangan pergi bersama dengan pemberinya. Apa segala dibuat sesulit dan serumit ini? . Dari kecil, aku sering mendengar bahwa segala sesuatu yang terjadi didunia ini adalah cara tuhan, rencana tuhan dan berdasarkan takdir tuhan. Lalu, apa hal buruk dalam chapter cerita hidup juga adalah rencana tuhan, takdir tuhankah? Aku percaya, bahwa tuhan adalah pemilik alam semesta Dialah yang berhak atas bumi dan isinya. Tapi, aku tidak cukup sanggup meneruskan. Iya, aku memang seperti ini aku tidak selalu bisa jujur terhadap beberapa hal, yang menurutku aku tidak perlu jawabannya; karena kepercayaanku sudah menjadi jawaban. Jadi, aku tersisa hanya harus menerima bahwa dijerumuskan kembali, dibawa lari oleh kenangan adalah juga merupakan takdir tuhan. Oh tuhan, benarkah sejauh itu takdirMu bercampur didalam manusia yang hina ini, disisi lain aku berpikir bahwa terjerumusnya aku, berlarinya aku sejauh itu karena adanya kenangan hanyalah karena aku sebagai pelaku tidak cukup mengkontrol diriku sendiri, tidak cukup realistis menghadapi segala hal yang sudah lewat dan tidak mungkin bisa kembali. Tunggu, aku sebenarnya tidak begitu perlu penjelasannya mana yang sesungguhnya benar dan salah. Tapi………………ini benar-benar mengganggu.

          Seiring waktu berlalu, seiring pula……………..kenyataan lebih menggambarkan bahwa ini adanya, dan tidak ada yang bisa kembali dulu. Iya, aku mencoba realistis, aku mencoba membiarkan. Memang segalanya lebih baik tidak seperti dulu lagi, tapi……….sediam apapun aku; pikiranku jatuhnya merindukan yang sudah lewat. Jadi ini sebenarnya pikiranku apa perasaanku sih? Penulis macam apa ini, yang sejauh ini enggak bisa ngerti bedanya perasaan  sama pikiran. Sekeras aku mencoba melupakan dan bersikap biasa., sesulit itu pula aku mengehentikan teriak diri untuk ingin seperti dulu. Kamu tahu pemilik tubuh ini dikalahkan oleh perasaanya sendiri, dia lebih memilih menyakiti pemilik tubuh ini dengan kenangan-kenangan yang beredar diotak. Melelahkan bukan, sangat amat. Ah, how I love the memories as I hate the memories. Iyakan?
          Baiklah, itu hanya kerinduan semata. Jangan berlebihan.

 
EBBELL STORIES Blogger Template by Ipietoon Blogger Template