Senin, 27 April 2015

KISAH PERTAMA MAHASISWI LAJU



          Malam ini si pemilik blog ini lagi tumben-tumbenan enggak ada tugas, yah tepatnya karena tugas presentasi IBJ sudah kelar dikerjakannya sejak hari sabtu kemarin. Yap, keren enggak. Tugas presentasi hari selasa sudah dikelar dihari sabtu? Tepatnya entah karena rajin atau emang karena dosennya yang berhasil merebut hati penulis ini. Eits, tapi gue enggak menyalahi kodrat kok………..dosen tetaplah dosen, dan mahasiswa tetaplah mahasiswa gue cukup tahu bagaimana hukum alam berjalan /apasihiningelantur// . Back to the topics……sebenernya penulis ini pengen nyeritain bagaimana perjuangan seorang mahasiswa ngelaju yang barusan berhasil mendarat dirumahnya setelah harus bersaing dengan hujan, petir dan aliran air yang meluap; tergenang alun di jalan raya menutupi lubang jalan membuat pengendara agak was-was untuk ngebut. Okay,
          Adzan ashar terdengar disela-sela mata kuliah keagamaan yang enggak mungkin gue sebut apa nama matkulnya /hihi/ jeda beberapa menit setelah adzan gue ngelihat rintik air terlihat jelas dan semakin jelas di jendela kelas. Mendengus dalam bathin gue dengan penuh keyakinan bahwa motor gue pastilah kehujanan hfftt. Yagitu, yagini………………jangan nyimpulin macam-macam dulu gimana motor gue bisa kehujanan, dilogika secara diam saja. Lalu setelah dengusan itu, gue pun mengabaikan hujan yang seenaknya menguyur dunia tanpa bisa diprediksi manusia; manusia kayak gue tepatnya. Jeda beberapa menit (tepatnya berpuluh-puluh menit setelah gue mengabaikan hujan) akhirnya…………matkul keagamaan ini selesai juga,hoamzzz. Dan dosen pamit, dan gue babay cantikzz itempat /anggg///.
          Keluar dari kelas, betapa gue enggak terkejut……….yagitu hujannya masih, malah langitnya makin gelap. Dari lantai 2 gedung yang sebenernya berlantai 4 ini, terlihat jelas banyak mahasiswa-mahasiswi yang juga terjebak hujan dan mereka pada sok-sokan nepi dibalkon sambil dengerin music pake headset; dengan penuh keyakinan gue sangat amat yakin mereka sedang baper karena hujan menjebak mereka dimasa lalu #eaaak. Gue sebagai manusia pengamat pun sok-sokan ikut nepi dibalkon, lalu tertarik mengikuti kegiatan mereka dengerin music pake headset, setelahnya gue merasa terserang kebaperan yang tidak teramat sangat dan gue memutuskan untuk duduk saja dikursi dekat tangga sambil ngebaca bukunya bang vabyo. //Oke, bye baper jangan mentang-mentang kenangan elu kuat, gue jadi bisa dibaperin oke. Sekian alaynya. // . Tiktoktiktok……………………….tersadar dari dunia bang vabyo yang menghipnotis  lewat bukunya, dan melihat pemandangan hampa disana; rintik hujan-itu-masih. Jam sudah menunjukkan pukul 5 dan its mean that gue udah sekitar 1 jam-an lebih menunggu keajaiban tuhan untuk menghentikan hujan yang makin tragis dengan adanya petir yang menyambar menyentuh bumi. Anak-anak sastra 2B pun turun dengan kompaknya, yap mereka baru saja menyelesaikan sebuah permainan klasik nan modern yang dulu waktu jaman putih abu-abu sering banget gue mainin; truth or dare. Mereka yang sejak tadi menunggu hujan reda pun akhirnya menyerah dan memutuskan “tak pulang wae lah……..kelamaan nunggu hujan” yah kurang lebih seperti itu. Gue dengan wajah sok ceria menyambut keluhan mereka dengan manis “pulanglah nak……pulang” /helleh/. Yap, dan benar beberapa dari mereka pun pulang dan beberapanya menunggu diperpus. Kini hanya ada Gue dan Nadia dilantai 2 itu, eh ada kaka senior juga sih………tapi karena gue enggak kenal mari kita anggap itu tidak terlihat.
          Jam menunjukkan pukul 6, pukul 6 coy………….anak prodi apa yang jam 6 belum pulang? Ya banyak -___- yakali masa’ enggak ada. Yap jam 6, sepertinya keteguhan hati gue meluruh meluap dan merapuh #eaak , tapi gue harus nunggu sampe babenya Nadia jemput karena diwaktu itulah tepat gue bisa pulang; mengingat kondisi motor gue yang enggak bisa dinyalakan dengan satu orang, HAHA (ywkim-lah……). Setelah beberapa menit menanti, akhirnya adiknya Nadia yang bernama Gilang itu pun datang lewat sms membawa kabar bahagia, bahwa Nadia akan dijemput dengan ayahnya bahkan beliau sudah on the way. Aku dan Nadia pun /mulaibaku/ segera turun dari lantai 2, kami pun berhati-hati melintasi jalanan yang licin, dan benar saja……….jalanan dari gedung fakultas ke depan kampus banjir, hiks ;_: banjir semata kaki sih,wkwkw. Gue dengan cepatpun mengambil motor dan menyalakannya dengan bantuan Nadia si manusia kurus nan kuat itu. Lampu depan motor menyala disertai dengan mesin yang mulai nga-ngeng-nga-ngeng………….tinggal menarik gas motorpun berjalan dengan halusnya melintas air yang menggenang lalu membelahnya, dan jipratannya berakhir mengenai roknya Nadia. Yah, selamat berbahagia Nadia berikut adalah konsekuensi membonceng Aya ditengah hujan yang mendera dan banjir yang menggenang. Berhubung Nadia sudah dijemput oleh Ayahnya, gue pun menurunkan Nadia tepat didepan masji kampus. Dia pun meminta gue buat jalan lebih dulu, tanpa harus nungguinn bokapnya yang bakal jemput. Oke, gue tancap gas dengan mengigil karena hujan kala itu yang benar-benar dingin; padahal gue pake jas hujan >,< .
          Yap, Jalan Jogja-Solo sore itu ramai luar biasa. Hujan semakin lama semakin deras, dan dingin mulai menyelimuti tubuh mungil ini. Semakin jauh meninggalkan Kartosuro dan masuk di Perbatasan Klaten-Solo hujan semakin menunjukkan grafik derasnya ditambah dengan entah apa bentuknya yang jelas ketika hujan itu mengenai wajah terasa sangat sakit. Alhasil, gue terpaksa harus menutup kaca helm, tapi oh sial tapi…………….ketika kaca helm ditutup justru jalanan didepan tidak terlihat jelas karena debit hujan yang semakin deras dan membuat segalanya terlihat blur. Yap, berikut adalah segment dilematis pengendara motor antara harus membuka kaca helm demi melihat pandangan jalan didepan dan berjaga-jaga apabila ada lubang jalan yang menganga atau harus menutup kaca helm untuk melindungi wajahnya yang akan terhantam oleh bongkahan es apabila kaca helm dibuka. Belum cukup sampai disitu, hujan semakin menguji emosi gue dengan adanya genangan air yang menutup lubang dijalan, oh shit…………….aku berulang-ulang menghantam lubang dijalan dengan ban motor tanpa sengaja /pukpukin ban motor/ . Akhirnya opsi terakhir yang bisa dipilih mungkin adalah dengan mengendari motor dengan kecepatan 20 km/jam seraya menepi dan membiarkan truk-truk kampret itu lewat menyalip. Perjalanan pun menjadi semakin lama, sangat lama………….padahal dingin hujan kala itu benar-benar membuat menggigil belum lagi petir yang menyambar cantik menakutkan manusia.
          Adzan isya berkumandang indah menyejukkan hati, mengingatkan diri bahwa pengendara ini tadi belum sempat shalat ashar dan maghrib /astaghfirullah/ lalu semakin membentak diri, INI UDAH ISYA DAN ELU MASIH DIJALAN BAHKAN BELUM SAMPE RUMAH >,,< ah begitulah kiranya. Dan……..”tintintintin”-bunyi klakson motor yang reflex gue keluarkan, yap tepat didepan gue tanpa sadar ada 2 motor berhenti ditengah jalan, dan gue baru menyadari keberadaanya disaat gue sedang focus melihat spion melihat truk lalu-lalang isebelah kanan. Yap, untung rem motor gue cukup cakram dan cekatan dalam mengambil tindakan dan untungnya gue cukup pintar dalam mengarahkan motor ke arah yang tepat. Waw, hampir saja…….sangat hampir saja. Kalau tadi gue lengah untuk waktu yang lama mungkin gue akan menabrak kedua motor yang berhenti ditenganh itu, atau kemungkinan terbesar; sekaligus yang paling mengerikan adalah ban motor gue menginjak kaki penggunan motor yang berhenti tadi. Oh shit, bayangan yang menakutkan, okay positive thinking, istighfar. Gue berhenti sejenak menepi, dan sepertinya tidak terjadi apa-apa terhadap 2 motor yang barusan gue lewatin dengan klakson nyaring tadi. Huft, baiklah lanjutkan perjalanan. Gue harus cepat pulang, gue caperk. Tapi alhamdullilah beberapa detik setelahnya hujan reda, walaupun tidak sepenuhnya reda tapi setidaknya si Hujan mulai menurunkan kadar debitnya menjadi lebih lirih dan sudah tidak begitu menusuk apabila terkena di wajah. Yap, dan itu adalah waktu yang paling tepat untuk menambah kecepatan. Dan berikutlah…………….perjuangan seorang anak laju, yang harus menempuh jarak dalam waktu 1 jam paling lama atau 45 menit paling cepat untuk sampai dikampusnya. Belum lagi, jika dijalan dia harus bertemu dengan hujan,petir,angin,macet,kecelakaan dan semacamnya. Belum lagi, jika dia harus berurusan dengan tugas yang otomatis membuat dia akan pulang lebih malam dari biasanya, jelas malam. Karena kuliah saja kelar jam 4.20 terus habis itu masih ngerjain tugas wifian dikampus, terus pulang jam berapa ? yagitu, nikmatin aja.
          Akhirnya, gue sampai desa ngrundul tetangganya desa karangnongko; tempat rumah gue berada. Subhanallah, dengan suasana pedesaan yang kental dimanan kanan-kirinya hamparan sawah yang luas dari pojok desa ngrundul sampai perbatasn di desa soran. Luar biasa, kuasa tuhan dan keindahan alam tergambar indah, bisa kulihat kelap-kelip cahaya kunang-kunanga memenuhi permukaan sawah, mereka berkelompok dan sangat kecil untuk bisa kusapa satu persatu. Sedangkan jauh didepan sana terlihat berbagai cahaya lampu yang menyebar dari Lereng Gunung Merapi yang bisa dilihat dari jalanan menuju kerumahku. Disini sepi, gelap dan dingin, aku  mungkin lelah dan mengigil tapi keindahan alam yang ditelan malam kala itu memudarkan segalanya, memudarkan kesunyian dan rasa lelah yang hinggap pada penulis ini.
“Tidak ada perjuangan yang sia-sia didunia ini, perjuangan selalu terbayar seimbang dengan hasil. “ – Aya

Senin, 27 April 2015

KISAH PERTAMA MAHASISWI LAJU



          Malam ini si pemilik blog ini lagi tumben-tumbenan enggak ada tugas, yah tepatnya karena tugas presentasi IBJ sudah kelar dikerjakannya sejak hari sabtu kemarin. Yap, keren enggak. Tugas presentasi hari selasa sudah dikelar dihari sabtu? Tepatnya entah karena rajin atau emang karena dosennya yang berhasil merebut hati penulis ini. Eits, tapi gue enggak menyalahi kodrat kok………..dosen tetaplah dosen, dan mahasiswa tetaplah mahasiswa gue cukup tahu bagaimana hukum alam berjalan /apasihiningelantur// . Back to the topics……sebenernya penulis ini pengen nyeritain bagaimana perjuangan seorang mahasiswa ngelaju yang barusan berhasil mendarat dirumahnya setelah harus bersaing dengan hujan, petir dan aliran air yang meluap; tergenang alun di jalan raya menutupi lubang jalan membuat pengendara agak was-was untuk ngebut. Okay,
          Adzan ashar terdengar disela-sela mata kuliah keagamaan yang enggak mungkin gue sebut apa nama matkulnya /hihi/ jeda beberapa menit setelah adzan gue ngelihat rintik air terlihat jelas dan semakin jelas di jendela kelas. Mendengus dalam bathin gue dengan penuh keyakinan bahwa motor gue pastilah kehujanan hfftt. Yagitu, yagini………………jangan nyimpulin macam-macam dulu gimana motor gue bisa kehujanan, dilogika secara diam saja. Lalu setelah dengusan itu, gue pun mengabaikan hujan yang seenaknya menguyur dunia tanpa bisa diprediksi manusia; manusia kayak gue tepatnya. Jeda beberapa menit (tepatnya berpuluh-puluh menit setelah gue mengabaikan hujan) akhirnya…………matkul keagamaan ini selesai juga,hoamzzz. Dan dosen pamit, dan gue babay cantikzz itempat /anggg///.
          Keluar dari kelas, betapa gue enggak terkejut……….yagitu hujannya masih, malah langitnya makin gelap. Dari lantai 2 gedung yang sebenernya berlantai 4 ini, terlihat jelas banyak mahasiswa-mahasiswi yang juga terjebak hujan dan mereka pada sok-sokan nepi dibalkon sambil dengerin music pake headset; dengan penuh keyakinan gue sangat amat yakin mereka sedang baper karena hujan menjebak mereka dimasa lalu #eaaak. Gue sebagai manusia pengamat pun sok-sokan ikut nepi dibalkon, lalu tertarik mengikuti kegiatan mereka dengerin music pake headset, setelahnya gue merasa terserang kebaperan yang tidak teramat sangat dan gue memutuskan untuk duduk saja dikursi dekat tangga sambil ngebaca bukunya bang vabyo. //Oke, bye baper jangan mentang-mentang kenangan elu kuat, gue jadi bisa dibaperin oke. Sekian alaynya. // . Tiktoktiktok……………………….tersadar dari dunia bang vabyo yang menghipnotis  lewat bukunya, dan melihat pemandangan hampa disana; rintik hujan-itu-masih. Jam sudah menunjukkan pukul 5 dan its mean that gue udah sekitar 1 jam-an lebih menunggu keajaiban tuhan untuk menghentikan hujan yang makin tragis dengan adanya petir yang menyambar menyentuh bumi. Anak-anak sastra 2B pun turun dengan kompaknya, yap mereka baru saja menyelesaikan sebuah permainan klasik nan modern yang dulu waktu jaman putih abu-abu sering banget gue mainin; truth or dare. Mereka yang sejak tadi menunggu hujan reda pun akhirnya menyerah dan memutuskan “tak pulang wae lah……..kelamaan nunggu hujan” yah kurang lebih seperti itu. Gue dengan wajah sok ceria menyambut keluhan mereka dengan manis “pulanglah nak……pulang” /helleh/. Yap, dan benar beberapa dari mereka pun pulang dan beberapanya menunggu diperpus. Kini hanya ada Gue dan Nadia dilantai 2 itu, eh ada kaka senior juga sih………tapi karena gue enggak kenal mari kita anggap itu tidak terlihat.
          Jam menunjukkan pukul 6, pukul 6 coy………….anak prodi apa yang jam 6 belum pulang? Ya banyak -___- yakali masa’ enggak ada. Yap jam 6, sepertinya keteguhan hati gue meluruh meluap dan merapuh #eaak , tapi gue harus nunggu sampe babenya Nadia jemput karena diwaktu itulah tepat gue bisa pulang; mengingat kondisi motor gue yang enggak bisa dinyalakan dengan satu orang, HAHA (ywkim-lah……). Setelah beberapa menit menanti, akhirnya adiknya Nadia yang bernama Gilang itu pun datang lewat sms membawa kabar bahagia, bahwa Nadia akan dijemput dengan ayahnya bahkan beliau sudah on the way. Aku dan Nadia pun /mulaibaku/ segera turun dari lantai 2, kami pun berhati-hati melintasi jalanan yang licin, dan benar saja……….jalanan dari gedung fakultas ke depan kampus banjir, hiks ;_: banjir semata kaki sih,wkwkw. Gue dengan cepatpun mengambil motor dan menyalakannya dengan bantuan Nadia si manusia kurus nan kuat itu. Lampu depan motor menyala disertai dengan mesin yang mulai nga-ngeng-nga-ngeng………….tinggal menarik gas motorpun berjalan dengan halusnya melintas air yang menggenang lalu membelahnya, dan jipratannya berakhir mengenai roknya Nadia. Yah, selamat berbahagia Nadia berikut adalah konsekuensi membonceng Aya ditengah hujan yang mendera dan banjir yang menggenang. Berhubung Nadia sudah dijemput oleh Ayahnya, gue pun menurunkan Nadia tepat didepan masji kampus. Dia pun meminta gue buat jalan lebih dulu, tanpa harus nungguinn bokapnya yang bakal jemput. Oke, gue tancap gas dengan mengigil karena hujan kala itu yang benar-benar dingin; padahal gue pake jas hujan >,< .
          Yap, Jalan Jogja-Solo sore itu ramai luar biasa. Hujan semakin lama semakin deras, dan dingin mulai menyelimuti tubuh mungil ini. Semakin jauh meninggalkan Kartosuro dan masuk di Perbatasan Klaten-Solo hujan semakin menunjukkan grafik derasnya ditambah dengan entah apa bentuknya yang jelas ketika hujan itu mengenai wajah terasa sangat sakit. Alhasil, gue terpaksa harus menutup kaca helm, tapi oh sial tapi…………….ketika kaca helm ditutup justru jalanan didepan tidak terlihat jelas karena debit hujan yang semakin deras dan membuat segalanya terlihat blur. Yap, berikut adalah segment dilematis pengendara motor antara harus membuka kaca helm demi melihat pandangan jalan didepan dan berjaga-jaga apabila ada lubang jalan yang menganga atau harus menutup kaca helm untuk melindungi wajahnya yang akan terhantam oleh bongkahan es apabila kaca helm dibuka. Belum cukup sampai disitu, hujan semakin menguji emosi gue dengan adanya genangan air yang menutup lubang dijalan, oh shit…………….aku berulang-ulang menghantam lubang dijalan dengan ban motor tanpa sengaja /pukpukin ban motor/ . Akhirnya opsi terakhir yang bisa dipilih mungkin adalah dengan mengendari motor dengan kecepatan 20 km/jam seraya menepi dan membiarkan truk-truk kampret itu lewat menyalip. Perjalanan pun menjadi semakin lama, sangat lama………….padahal dingin hujan kala itu benar-benar membuat menggigil belum lagi petir yang menyambar cantik menakutkan manusia.
          Adzan isya berkumandang indah menyejukkan hati, mengingatkan diri bahwa pengendara ini tadi belum sempat shalat ashar dan maghrib /astaghfirullah/ lalu semakin membentak diri, INI UDAH ISYA DAN ELU MASIH DIJALAN BAHKAN BELUM SAMPE RUMAH >,,< ah begitulah kiranya. Dan……..”tintintintin”-bunyi klakson motor yang reflex gue keluarkan, yap tepat didepan gue tanpa sadar ada 2 motor berhenti ditengah jalan, dan gue baru menyadari keberadaanya disaat gue sedang focus melihat spion melihat truk lalu-lalang isebelah kanan. Yap, untung rem motor gue cukup cakram dan cekatan dalam mengambil tindakan dan untungnya gue cukup pintar dalam mengarahkan motor ke arah yang tepat. Waw, hampir saja…….sangat hampir saja. Kalau tadi gue lengah untuk waktu yang lama mungkin gue akan menabrak kedua motor yang berhenti ditenganh itu, atau kemungkinan terbesar; sekaligus yang paling mengerikan adalah ban motor gue menginjak kaki penggunan motor yang berhenti tadi. Oh shit, bayangan yang menakutkan, okay positive thinking, istighfar. Gue berhenti sejenak menepi, dan sepertinya tidak terjadi apa-apa terhadap 2 motor yang barusan gue lewatin dengan klakson nyaring tadi. Huft, baiklah lanjutkan perjalanan. Gue harus cepat pulang, gue caperk. Tapi alhamdullilah beberapa detik setelahnya hujan reda, walaupun tidak sepenuhnya reda tapi setidaknya si Hujan mulai menurunkan kadar debitnya menjadi lebih lirih dan sudah tidak begitu menusuk apabila terkena di wajah. Yap, dan itu adalah waktu yang paling tepat untuk menambah kecepatan. Dan berikutlah…………….perjuangan seorang anak laju, yang harus menempuh jarak dalam waktu 1 jam paling lama atau 45 menit paling cepat untuk sampai dikampusnya. Belum lagi, jika dijalan dia harus bertemu dengan hujan,petir,angin,macet,kecelakaan dan semacamnya. Belum lagi, jika dia harus berurusan dengan tugas yang otomatis membuat dia akan pulang lebih malam dari biasanya, jelas malam. Karena kuliah saja kelar jam 4.20 terus habis itu masih ngerjain tugas wifian dikampus, terus pulang jam berapa ? yagitu, nikmatin aja.
          Akhirnya, gue sampai desa ngrundul tetangganya desa karangnongko; tempat rumah gue berada. Subhanallah, dengan suasana pedesaan yang kental dimanan kanan-kirinya hamparan sawah yang luas dari pojok desa ngrundul sampai perbatasn di desa soran. Luar biasa, kuasa tuhan dan keindahan alam tergambar indah, bisa kulihat kelap-kelip cahaya kunang-kunanga memenuhi permukaan sawah, mereka berkelompok dan sangat kecil untuk bisa kusapa satu persatu. Sedangkan jauh didepan sana terlihat berbagai cahaya lampu yang menyebar dari Lereng Gunung Merapi yang bisa dilihat dari jalanan menuju kerumahku. Disini sepi, gelap dan dingin, aku  mungkin lelah dan mengigil tapi keindahan alam yang ditelan malam kala itu memudarkan segalanya, memudarkan kesunyian dan rasa lelah yang hinggap pada penulis ini.
“Tidak ada perjuangan yang sia-sia didunia ini, perjuangan selalu terbayar seimbang dengan hasil. “ – Aya
 
EBBELL STORIES Blogger Template by Ipietoon Blogger Template