Kamu tahu bagaimana rasanya manusia
cerewet ini harus terdiam tanpa suara demia penolakan terhadap nyeri yang bisa
ditimbulkan hanya dengan sekedar mengeluarkan suara. Bahkan, satu cegukan, satu
gerakan otot penghubung mulut dan telinga, satu uapan mengantuk; bisa terbayar
dengan beribu rasa nyeri yang luar biasa.
Tidak hanya itu, manusia ini jadi
merasa dunia lebih tenang dan sempit. Hanya saja terkadang menjadi lebih sulit
ketika ada suatu suara yang frekuensinya diatas rata-rata untuk diterima telinga
yang (tidak) normal sehingga penerimaan bunyi menjadi menukik tajam didalam
telinga, dan nyeri itu kembali datang berkali-kali besarnya. Sungguh melelahkan
terkukung dalam situasi sunyi dan diam pada sosok yang biasanya menghasilkan
banyak bites suara dengan frekuensi yang amat dahsyat.
Tapi
manusia ini jadi bisa ikut belajar, bahwa kita harus pintar-pintar memainkan
bathin dan isyarat ketika suara tidak lagi bisa diandalkan

