Jumat, 01 Mei 2015

PERTEMANAN CEGITU SIH


          Malam ini, mati lampu………………dan karena tidak ingin membuang banyak waktu penulis memutuskan untuk menuliskan sesuatu disini.Beberapa hari yang lalu, Penulis sedanmg mendapatkan suatu curhatan mengenai pertemanan. Then the writer got the topic to make a sentences in some paragraph. Lets read.
          Pertemanan adalah…………..ada yang tahu definisi pastinyakah? Singkatnya mungkin hubungan antara beberapa orang yang merasa dekat satu sama lain. Ya kurang lebih gitu sih. Penulis yakin tanpa menjabarkan definisi pertemanan pastilah kalian para pembaca sudah tahu apa itu pertemanan. Tepatnya itu bukan sesuatu hal yang bisa atau harus dideksripsikan dalam kalimat, tentunya kalian masing-masing akan menemuinya.
          Penulis pernah membaca disalah satu tulisan seorang penulis “titik,koma” yang kurang lebih begini “ kalau memang teman adalah teman, bertemanlah dengan siapapun. Bergaul baru pilih-pilih……….”  - lupa nama penulisnya. Yap, bertemanlah dengan siapapun, carilah teman sebanyak-banyaknya.Dalam beberapa event motivasi atau seminar atau apalah, beberapa orang hebat tidak jarang memberi saran kepada para penonton atau audiencenya kala itu bahwa salah satu jalan menuju sukses adalah berteman dengan banyak orang, iya berteman dengan siapapun. Tapi yang ingin penulis bahas disini bukan tentang jalan menuju sukses atau apalah; dikarenakan penulis juga bukan orang hebat seperti para motivator era-era ini (in process…………)
          Tunggu, ini ngeblank.Materinya berantakan, dan penulis tidak sempat bahkan memang tidak pernah membuat brainstorming dalam tiap penulisan artikelnya, kecuali dalam matkul writing dikampus, haha.
          Kita tidak harus mempermasalahkan teman yang datang dan pergi seenaknya /seenak jidatnya maksudnya/ bukankah “datang disaat gelap dan pergi disaat terang” adalah sifat manusia yang diera-era ini terlihat sangat manusiawi.Menulis pernyataan tersebut tidak berarti bahwa semua manusia seperti, tidak berarti bahwa penulis pro dengan manusia-manusia semacam itu – tidak berarti juga penulis pro dengan para manusia yang selalu menyalahkan manusia-manusia seperti itu. Secara perasaan (karena penulis perempuan) beberapa dari kita jelas tidak begitu nyaman menerima kehadiran manusia yang datang hanya saat dia membutuhkan, tapi kita bisa apa ?bukankah dengan adanya manusia-manusia seperti itu, membuat kita menjadi lebih belajar untuk menerima dan ikhlas dalam berteman. Itulah mengapa diawal tadi sudah penulis tuliskan bahwa bertemanlah dengan siapapun. Dengan memiliki banyak teman, tentunya tidak akan membuat kita terlalu memusingkan manusia-manusia yang datang hanya ketika butuhnya saja. Tapi, ada banyak teman atau tidak disekitar kita tetaplah berpositif thinking. Percayalah bahwa segala sesuatu didunia ini tidak terjadi begitu saja, seorang teman yang datang dan pergi begitu saja tentunya memiliki alasan selain sekedar dengan alasan “karena urusannya dengan kita sudah selesai” ,yah tapi penulis tidak memungkiri bahwa tetap saja ada manusia yang alasannya hanya satu………..ya alasan yang itu saja.
          Teman, dia juga manusia.Kita juga manusia; hei kita disini semua sedang membicarakan manusia.Manusia yang merasa selalu didatangi ketika butuh dan lalu berakhir merasa kehilangan, dan Manusia yang seenak jidatnya datang dan pergi; datang ketika butuh dan pergi ketika kelar. Bukankah bisa saja tanpa sadar Manusia Pertama itu bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Manusia Kedua dan bahkan sebaliknya ? . Terkadang pemikiran kita berjalan seperti peribahasa “Kuman disebarang terlihat, Gajah didepan mata buram” – yakuranglebihgitu.Iya, terkadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesalahan teman kita, tanpa mau melihat letak kesalahan kita dimana.Parahnya, kita terlalu cepat merasa kehilangan tanpa ada usaha untuk mengembalikan keadaan oh bukan mengembalikan keadaan, tapi mempertahankannya. Teman adalah teman, dia tetaplah manusia yang memiliki kebebasan menentukan langkah apa yang ingin dia ambil, sekalipun langkah itu adalah “pergi ketika urusan kelar” belajarlah menerima-menghargainya. Naif, kata “menerima-menghargai” atau yang senada dengan “ikhlas dalam pertemanan” adalah kata-kata naïf yang dibuat sok halus agar terlihat baik, tapi bukankah merasa terluka, negative thinking dan meronta adalah hal yang wajar pula dalam merespon adanya tingkah teman yang semaca itu? Bukankah lebih baik menjadi apa adanya. Menjadi seperti apa yang dipikirkan oleh dirimu, tanpa harus sok baik-sok nerima-sok ikhlas.
          Sesungguhnya dalam hati manusia, seburuk apapun itu; tetaplah tersimpan kebaikan walau sedikit dan kebaikan yang dapat kita sadari ini bisa menjadi lebih besar kalau saja kita benar-benar mampu mengalahkan yang buruk. Its mean that, sebenci dan sesakit apapun rasanya diperlakukan oleh teman sendiri, tetap saja penulis meyakini bahwa masih ada kebaikan yang tersimpan dala hati kita. Hei, ini teman; teman kita sendiri.Pantaskah kita membenci?Pantaskah kita tidak memaklumi kesalahannya?Bukankah kita juga pernah salah? ; jawabannya adalah maafkanlah apabila itu menyakitkan, dan tetaplah positif thinking seburuk apapun situasi akan terbentuk. Kita sebagai teman memang fungsinya adalah selalu ada untuk yang merasa/dirasa menjadi teman kita, tanpa mengharapkan imbalan apapun.Tapi tentunya, sebuah sikap pertemanan sudah sepantasnya dibalas dengan sikap pertemanan tanpa harus diminta. Dengarkanlah temanmu, berikan dia saran bila memungkinkan, ikuti dan pahami emosinya, tenangkanlah, peringatkanlah jika dia salah, tertawalah bersamanya ; lakukan hal-hal seperti itu dengan ikhlas dalam sebuah pertemanan, maka hal-hal kecil seperti itu pula yang akan berbuah menjadi kebaikan. Percayalah bahwa hukum alam tentang kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dengan segala kekuatan tuhan itu benar adanya.
          Lalu bagaimana dengan bagian menangis bersama, ceritakan masalahmu, tumpahkan amarahmu, katakana hal-hal yang tidak kau sukai darinya; apakah hal itu tidak harus disampaikan senada dengan hal-hal paragraph sebelumnya, ikhlas-tulus?Tidak, maksudnya itu terserah kalian.Merupakan hak masing-masing untuk melakukan hal tersebut. Yang penulis lihat dari beberapa pertemanan, ada beberapa pertemanan yang berjalan begitu lama,  padahal selama waktu yang terlewat oleh pertemanan itu hanya salah satu pihak yang sangat antusias menjadikan pertemanan sebagai tempat meneduh-berlindung-berakhir, sedangkan pihak satunya hanya seperti penonton-pendengar-pemberi saranTapi, kenyataanya mereka bertahan bukan?. Inilah kekuatan sebuah pertemanan, keikhlasan-ketulusan dala menerima dan memberi. Kebaikan tetaplah akan mendapatkan tempat terbaik dan balasan terbaik, hanya saja itu butuh proses. Pada akhirnya yang hanya hobi berkeluh kesah-berteduh-menangis-meronta di temannya, lama-kelamaan akan bisa belajar menjadi sosok yang peka dan pendengar yang baik; hanya butuh proses bagi yang mau bersabar. Kalaupun satu sama lain tidak berjalan seimbang untuk saling memberi dan menerima, itu hak masing-masing untuk mengambil sikap diwaktu yang disebut “cukup, ini melelahkan”.
          Bukalah pintu bagi siapapun yang ingin datang kepadamu, seburuk apapun cara dia datang dan lalu pergi, karena mungkin bisa jadi itu adalah salah satu cara paling mudah agar kita bisa berguna untuk orang lain. Bertemanlah dengan siapapun, siapapun………………agar bila nantinya kita akan kehilang salah satu atau lebih, tidak akan menjadi cukup sulit untuk menerima keadaan yang akan berubah. Penulis tidak sama sekali menyuruh kalian buta akan sebuah kehilangan dan kepergian, hanya saja selagi kita masih bisa berbuat baik dan berguna untuk orang lain, kenapa harus melewatkan kesempatan itu? Kehilangan dan kepergian adalah cobaan, adalah bagian paling hebat untuk menguatkan dan menggambarkan sejauh mana kita menjadi sosok yang ikhlas dan tulus dalam pertemanan.Jangan genggam temanmu terlalu erat.Berjalanlah disampingnya, tanpa harus mengenggamnya erat; karena genggaman itu bisa menyakitkan salah satu atau bahkan keduanya. Bebaskan dia seperti angin, tidak semua teman akan benar-benar sebebas angin, hanya sahabat yang tentunya siap bertahan menjadi udara disekitarmu; yang akan bertahan satu sama lain melanggar sifat udara yang ada dibuku sains.

“Teman yang sebenarnya tidak akan menjadi bayanganmu yang terlihat ketika ada cahaya dan menghilang ketika gelap menghampiri.Tapi tidak semua teman bisa menjadi “teman yang sebenarnya”, dan tidak semua teman bisa menjadi “sahabat”.Tidak peduli bagaimanapun nanti, carilah teman seluas-luasanya. Dan biarkan “saling menerima-memberi dengan ikhlas” menjadi langkah pertemananmu berjalan jauh menembus waktu “ – Sekian


Jumat, 01 Mei 2015

PERTEMANAN CEGITU SIH


          Malam ini, mati lampu………………dan karena tidak ingin membuang banyak waktu penulis memutuskan untuk menuliskan sesuatu disini.Beberapa hari yang lalu, Penulis sedanmg mendapatkan suatu curhatan mengenai pertemanan. Then the writer got the topic to make a sentences in some paragraph. Lets read.
          Pertemanan adalah…………..ada yang tahu definisi pastinyakah? Singkatnya mungkin hubungan antara beberapa orang yang merasa dekat satu sama lain. Ya kurang lebih gitu sih. Penulis yakin tanpa menjabarkan definisi pertemanan pastilah kalian para pembaca sudah tahu apa itu pertemanan. Tepatnya itu bukan sesuatu hal yang bisa atau harus dideksripsikan dalam kalimat, tentunya kalian masing-masing akan menemuinya.
          Penulis pernah membaca disalah satu tulisan seorang penulis “titik,koma” yang kurang lebih begini “ kalau memang teman adalah teman, bertemanlah dengan siapapun. Bergaul baru pilih-pilih……….”  - lupa nama penulisnya. Yap, bertemanlah dengan siapapun, carilah teman sebanyak-banyaknya.Dalam beberapa event motivasi atau seminar atau apalah, beberapa orang hebat tidak jarang memberi saran kepada para penonton atau audiencenya kala itu bahwa salah satu jalan menuju sukses adalah berteman dengan banyak orang, iya berteman dengan siapapun. Tapi yang ingin penulis bahas disini bukan tentang jalan menuju sukses atau apalah; dikarenakan penulis juga bukan orang hebat seperti para motivator era-era ini (in process…………)
          Tunggu, ini ngeblank.Materinya berantakan, dan penulis tidak sempat bahkan memang tidak pernah membuat brainstorming dalam tiap penulisan artikelnya, kecuali dalam matkul writing dikampus, haha.
          Kita tidak harus mempermasalahkan teman yang datang dan pergi seenaknya /seenak jidatnya maksudnya/ bukankah “datang disaat gelap dan pergi disaat terang” adalah sifat manusia yang diera-era ini terlihat sangat manusiawi.Menulis pernyataan tersebut tidak berarti bahwa semua manusia seperti, tidak berarti bahwa penulis pro dengan manusia-manusia semacam itu – tidak berarti juga penulis pro dengan para manusia yang selalu menyalahkan manusia-manusia seperti itu. Secara perasaan (karena penulis perempuan) beberapa dari kita jelas tidak begitu nyaman menerima kehadiran manusia yang datang hanya saat dia membutuhkan, tapi kita bisa apa ?bukankah dengan adanya manusia-manusia seperti itu, membuat kita menjadi lebih belajar untuk menerima dan ikhlas dalam berteman. Itulah mengapa diawal tadi sudah penulis tuliskan bahwa bertemanlah dengan siapapun. Dengan memiliki banyak teman, tentunya tidak akan membuat kita terlalu memusingkan manusia-manusia yang datang hanya ketika butuhnya saja. Tapi, ada banyak teman atau tidak disekitar kita tetaplah berpositif thinking. Percayalah bahwa segala sesuatu didunia ini tidak terjadi begitu saja, seorang teman yang datang dan pergi begitu saja tentunya memiliki alasan selain sekedar dengan alasan “karena urusannya dengan kita sudah selesai” ,yah tapi penulis tidak memungkiri bahwa tetap saja ada manusia yang alasannya hanya satu………..ya alasan yang itu saja.
          Teman, dia juga manusia.Kita juga manusia; hei kita disini semua sedang membicarakan manusia.Manusia yang merasa selalu didatangi ketika butuh dan lalu berakhir merasa kehilangan, dan Manusia yang seenak jidatnya datang dan pergi; datang ketika butuh dan pergi ketika kelar. Bukankah bisa saja tanpa sadar Manusia Pertama itu bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Manusia Kedua dan bahkan sebaliknya ? . Terkadang pemikiran kita berjalan seperti peribahasa “Kuman disebarang terlihat, Gajah didepan mata buram” – yakuranglebihgitu.Iya, terkadang kita terlalu cepat menyimpulkan kesalahan teman kita, tanpa mau melihat letak kesalahan kita dimana.Parahnya, kita terlalu cepat merasa kehilangan tanpa ada usaha untuk mengembalikan keadaan oh bukan mengembalikan keadaan, tapi mempertahankannya. Teman adalah teman, dia tetaplah manusia yang memiliki kebebasan menentukan langkah apa yang ingin dia ambil, sekalipun langkah itu adalah “pergi ketika urusan kelar” belajarlah menerima-menghargainya. Naif, kata “menerima-menghargai” atau yang senada dengan “ikhlas dalam pertemanan” adalah kata-kata naïf yang dibuat sok halus agar terlihat baik, tapi bukankah merasa terluka, negative thinking dan meronta adalah hal yang wajar pula dalam merespon adanya tingkah teman yang semaca itu? Bukankah lebih baik menjadi apa adanya. Menjadi seperti apa yang dipikirkan oleh dirimu, tanpa harus sok baik-sok nerima-sok ikhlas.
          Sesungguhnya dalam hati manusia, seburuk apapun itu; tetaplah tersimpan kebaikan walau sedikit dan kebaikan yang dapat kita sadari ini bisa menjadi lebih besar kalau saja kita benar-benar mampu mengalahkan yang buruk. Its mean that, sebenci dan sesakit apapun rasanya diperlakukan oleh teman sendiri, tetap saja penulis meyakini bahwa masih ada kebaikan yang tersimpan dala hati kita. Hei, ini teman; teman kita sendiri.Pantaskah kita membenci?Pantaskah kita tidak memaklumi kesalahannya?Bukankah kita juga pernah salah? ; jawabannya adalah maafkanlah apabila itu menyakitkan, dan tetaplah positif thinking seburuk apapun situasi akan terbentuk. Kita sebagai teman memang fungsinya adalah selalu ada untuk yang merasa/dirasa menjadi teman kita, tanpa mengharapkan imbalan apapun.Tapi tentunya, sebuah sikap pertemanan sudah sepantasnya dibalas dengan sikap pertemanan tanpa harus diminta. Dengarkanlah temanmu, berikan dia saran bila memungkinkan, ikuti dan pahami emosinya, tenangkanlah, peringatkanlah jika dia salah, tertawalah bersamanya ; lakukan hal-hal seperti itu dengan ikhlas dalam sebuah pertemanan, maka hal-hal kecil seperti itu pula yang akan berbuah menjadi kebaikan. Percayalah bahwa hukum alam tentang kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dengan segala kekuatan tuhan itu benar adanya.
          Lalu bagaimana dengan bagian menangis bersama, ceritakan masalahmu, tumpahkan amarahmu, katakana hal-hal yang tidak kau sukai darinya; apakah hal itu tidak harus disampaikan senada dengan hal-hal paragraph sebelumnya, ikhlas-tulus?Tidak, maksudnya itu terserah kalian.Merupakan hak masing-masing untuk melakukan hal tersebut. Yang penulis lihat dari beberapa pertemanan, ada beberapa pertemanan yang berjalan begitu lama,  padahal selama waktu yang terlewat oleh pertemanan itu hanya salah satu pihak yang sangat antusias menjadikan pertemanan sebagai tempat meneduh-berlindung-berakhir, sedangkan pihak satunya hanya seperti penonton-pendengar-pemberi saranTapi, kenyataanya mereka bertahan bukan?. Inilah kekuatan sebuah pertemanan, keikhlasan-ketulusan dala menerima dan memberi. Kebaikan tetaplah akan mendapatkan tempat terbaik dan balasan terbaik, hanya saja itu butuh proses. Pada akhirnya yang hanya hobi berkeluh kesah-berteduh-menangis-meronta di temannya, lama-kelamaan akan bisa belajar menjadi sosok yang peka dan pendengar yang baik; hanya butuh proses bagi yang mau bersabar. Kalaupun satu sama lain tidak berjalan seimbang untuk saling memberi dan menerima, itu hak masing-masing untuk mengambil sikap diwaktu yang disebut “cukup, ini melelahkan”.
          Bukalah pintu bagi siapapun yang ingin datang kepadamu, seburuk apapun cara dia datang dan lalu pergi, karena mungkin bisa jadi itu adalah salah satu cara paling mudah agar kita bisa berguna untuk orang lain. Bertemanlah dengan siapapun, siapapun………………agar bila nantinya kita akan kehilang salah satu atau lebih, tidak akan menjadi cukup sulit untuk menerima keadaan yang akan berubah. Penulis tidak sama sekali menyuruh kalian buta akan sebuah kehilangan dan kepergian, hanya saja selagi kita masih bisa berbuat baik dan berguna untuk orang lain, kenapa harus melewatkan kesempatan itu? Kehilangan dan kepergian adalah cobaan, adalah bagian paling hebat untuk menguatkan dan menggambarkan sejauh mana kita menjadi sosok yang ikhlas dan tulus dalam pertemanan.Jangan genggam temanmu terlalu erat.Berjalanlah disampingnya, tanpa harus mengenggamnya erat; karena genggaman itu bisa menyakitkan salah satu atau bahkan keduanya. Bebaskan dia seperti angin, tidak semua teman akan benar-benar sebebas angin, hanya sahabat yang tentunya siap bertahan menjadi udara disekitarmu; yang akan bertahan satu sama lain melanggar sifat udara yang ada dibuku sains.

“Teman yang sebenarnya tidak akan menjadi bayanganmu yang terlihat ketika ada cahaya dan menghilang ketika gelap menghampiri.Tapi tidak semua teman bisa menjadi “teman yang sebenarnya”, dan tidak semua teman bisa menjadi “sahabat”.Tidak peduli bagaimanapun nanti, carilah teman seluas-luasanya. Dan biarkan “saling menerima-memberi dengan ikhlas” menjadi langkah pertemananmu berjalan jauh menembus waktu “ – Sekian


 
EBBELL STORIES Blogger Template by Ipietoon Blogger Template