Apa
kamu bisa melihat fatamorgana? Iya, fatamorgana. Sesuatu hal yang tidak
benar-benar ada seperti yang terlihat oleh kedua mata ini. Ada banyak hal yang
kita anggap ada, tapi tidak benar-benar ada. Tidak banyak pula yang kita anggap
bayangan justru benar-benar ada. Lalu dimana letak pembenaran sebuah perkiraan?
Berhentilah mengira, tapi bukankah sebagai manusia kita dituntut untuk selalu
berpikiran baik; seburuk apapun sebuah hal terjadi. Dibanding menyalahkan dan terus
menyesalkan bukankah lebih baik melepaskan-melupakan. Dan yah, anggap saja
semua baik-baik saja. Menjadi manusia yang tiada habisnya untuk berpikiran
positif, hanya ingin berusaha berdamai dengan situasi yang ada dan berusaha
mempertahankan apa-apa yang seharusnya tidak hancur hanya karena hal-hal
sepele.
Kenapa
kamu bercerita hal berbeda dari kenyataanya? Kamu berbohong, iya memang
berbohong. Tapi tidakkah kamu memang tidak pernah mengerti alasannya. Aku
sedang berusaha menjaga nama baik seseorang, dan nama baikku sendiri. Aku
melakukan segala sesuatunya dengan berpikiran panjang, bahkan aku tidak tahu
yang berusaha berpikiran panjang justru malah menjatuhkan sebuah hubungan yang
ada. Aku sedang menyelamatkan situasi jikalau hal buruk itu benar-benar
terjadi, setidaknya tidak berpengaruh pada penonton yang lain jikalau kita
berada dalam satu stage.
Ah,
lalu petir membangunkan tidur panjang sang putri tidur. Lalu penyihir pun
menyuruhnya melihat segala sesuatu lebih realistis. Bahwa mimpi hanyalah mimpi,
tidak pernah berarti apa-apa seperti yang terlihat. Putri tidur sempat melawan
karena dia merasa selalu disiksa oleh mimpinya, tapi penjelasan yang selalu ia
terima dari nenek sihir tiap dibangun tidurnya dan memang hal-hal sekitar yang
tidak pernah mengirimkan arti mimpi. Membuatnya sadar, bahwa mimpi hanyalah
mimpi yang tidak pernah berarti apa-apa, hanyalah bunga tidur yang sering
disebut bunga; tapi justru mengganggu. Bahwasannya, tidur yang nyenyak adalah
tidur terlelap tanpa mimpi dan terbangun bahagia; bukan nestapa.

